Kamis, 02 Desember 2021

Awardee

 

Juli lalu, saya diberitahu bapak bahwa Kemendikbud membuka program beasiswa unggulan. Sepintas, saya pribadi kurang tertarik. Bukan karena sudah mendapat beasiswa lain, namun seperti biasanya, begitu mengunduh berkas syarat pendaftaran, mood sudah diserang malas terlebih dahulu, alhasil berkas berlalu begitu saja. Mengapa malas? Tidak lain dan tidak bukan adalah persyaratan yang begitu banyak dan rumit, tentunya beberapa di antaranya saya tidak memenuhi.

Beberapa pekan kemudian, awal Agustus, sesuai dengan rencana sebelumnya, saya melanjutkan studi lagi. Setelah melewati serentetan prosedur, diberitahukan bahwa pengumuman kelulusan adalah tanggal 19 Agustus. Saya menunggu dengan sabar.

Namun sekitar tanggal 10 Agustus, bapak kembali mengingatkan, “sudah daftar beasiswa unggulan belum?” Saya menjawab dengan ringan, “syaratnya belum lengkap, pak. Kan, akhir pendaftaran 15 Agustus, sedangkan pengumuman penerimaan baru 19 Agustus.”

Hal ini tidak lepas dari syarat utama beasiswa unggulan, adalah adanya letter of acceptance (LoA) dari perguruan tinggi yang telah menerima kita sebagai mahasiswanya.

Namun, bapak saya kembali menjawab dengan ringan, “unggah saja kartu ujian, pokoknya apapun yang membuktikan kalau kamu benar-benar mau daftar.” Tanpa pikir panjang, saya lakukan arahan bapak.

Beasiswa unggulan (BU) ini cukup unik, karena menurut informasi, dari 3000 pendaftar, sebanyak 1000 orang lolos. Artinya, dari 3 orang, 1 orang diterima. Waw! Sungguh kesempatan yang sangat besar! Tentunya dibandingkan LPDP, dari puluhan ribu pendaftar, hanya kecil persentase yang lolos.

Selain itu, BU ini terbagi ke dalam 4 kategori, yaitu masyarakat berprestasi, masyarakat miskin, penyandang disabilitas, dan pegawai negeri. Tentunya ketiga kategori terakhir, saya tidak termasuk di dalamnya. Saya hanya perlu merasa ‘sok’ berprestasi. Syarat yang tertera adalah minimal memiliki prestasi tingkat kabupaten, dan harus ada sertifikatnya. Sedangkan saya, hanya mengunggah sertifikat lomba selevel kampus dan sebuah foto saya waktu SD, saat mengangkat sertifikat juara 3 lomba renang se-provinsi. Ya, benar, saya mengunggah sebuah foto.

Lucu memang, tapi, tidak ada yang melarang sama sekali untuk mengunggah kedua persyaratan itu. Toh, folder itu menerima file apapun yang kita unggah. Anda pernah juara adzan se-RT, asalkan itu benar, maka buatlah sertifikat bertuliskan tangan, tanda tangan ketua RT, scan lalu unggah, folder pasti menerima. Hanya saja, jangan sekali-kali berpikir untuk berbohong.

Bahkan saya sempat menulis beberapa prestasi saya saat di Pondok pada formulir, yaitu lomba pidato, lomba cerdas cermat, dll. Hanya saja saya urungkan, karena tidak ada sertifikatnya. Mau membuat pun tak sempat.

Sederhananya, serumit apapun itu syarat yang tertera, unggah saja apapun yang anda punya. Selama itu jujur. Saya pribadi yakin, banyak di luar sana yang tidak jadi mendaftar juga, karena tidak bisa memenuhi syarat. Bukan karena tidak memenuhi syarat tepatnya, tapi karena tidak mau mencoba. Kalau banyak yang tak mau berusaha, maka persaingan tak begitu ketat.

Info dari beberapa teman, malam ini beasiswa tersebut sudah diterima oleh para awardee. Selamat, semoga beasiswa itu menjadi pelecut semangat belajar bagi para awardee, dan tentunya, menjadi PR kita bersama agar uang negara tersebut menjadi bermakna.binhadjid

Jumat, 02 Desember 2016

Bagaimana Air Mata ini Tidak Mengalir?

Di sudut sana, ada senyuman manis dari seorang anak kecil dibarengi sodoran bungkusan teh manis. “Ini, kak. Diminum dulu, biar gak haus.” Berjalan beberapa meter, tampak seorang ibu menggendong anak sembari menangis dan mempersilahkan kami mengambil bungkusan nasi yang tertata rapi di atas meja. Di kejauhan sana barisan anak-anak berusia kisaran 8-10 tahun meneriakkan suara yang samar-samar terdengar. Saat kudekati, ternyata mereka meneriakkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”
Hari ini Bandung menyajikan pemandangan yang tidak biasa. Dan pemandangan itu dipersembahkan bagi para mujahid yang berteguh hati mengadakan perjalanan jauh, yang semata-mata untuk membela kitab pedomannya, al-Qur’an. Merekalah para mujahid dari Ciamis. Mujahid yang mengapresiasikan kecintaan terhadap al-Qur’an dengan berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta. Satu perjalanan yang tentu saja tidak masuk akal bagi manusia normal.
Terlepas dari cemoohan di sana-sini, sekali lagi, cercaan dari berbagai pihak, yang menganggap hal ini adalah suatu pemaksaan yang biadab. Kenapa tidak mereka saja yang mencemooh memberi solusi dengan memfasilitasi kendaraan menuju Jakarta. Toh aksi ini tak akan terjadi jika ada perusahaan bus yang rela melawan aturan dengan menyewakan armadanya. Sekali lagi, tak elok kita memperdebatkan masalah mendasar jika tak tahu asal muasalnya.
Dan sambutan luar biasa dari warga Bandung ini adalah aprsesiasi dukungan bagi para mujahid Ciamis. Bak kaum Anshar yang menyambut para Muhajirin dari Makkah. Memberi makan, minum, pakaian, sandal, dan kebutuhan secukupnya. Bahkan setidaknya jika mampu, hadir di samping jalan, sembari melempar senyum kepada para mujahid dan mengucapkan, “Allahu Akbar”. Bagaimanapun juga, hanya Allah yang pantas membalas jasa-jasa mereka, entah kaum ‘Anshar’, ataupun kaum ‘Muhajirin’.
Melihat peristiwa langka ini di media sosial, rasanya air mata ini tak kuasa untuk ditahan. Kami tak pernah melihat pemandangan seperti sebelumnya. Kalaupun ada, tidak seeksttrem ini, tidak seluarbiasa ini, tidak semenakjubkan ini.
Saya pribadi, merasa malu sangat tak dapat membantu mereka secara langsung. Setidaknya dengan doa dan tumpahan rasa dalam tulisan ini, membuat saya memuaskan diri untuk tidak bermalu sangat kepada mereka yang jauh lebih hebat dalam berkorban bagi Qurannya.binhadjid



Senin, 26 September 2016

Modern adalah Proporsional

Saya mendengar ini dari seorang putra kyai. Satu statemen menarik yang membuat saya ingin menulis. Kemodernan adalah proporsionalitas dalam suatu hal. Saat kita menempatkan sesuatu pada tempatnya, berarti modern. Saat bekerja sesuai aturan, berarti modern. Saat menggunakan pakaian sesuai dengan tempat, berarti modern. Modern adalah berpikiran maju, tidak sempit. Modern adalah berpikir secara profesional dan rasional.
Gontor sangat ahli dalam melakukan hal ini. Disiplin yang diciptakan sangat sistemik. Semua saling berhubungan. Contoh saja dari pakaian, saat olahraga, setiap santri diwajibkan mengenakan kaos, celana training, dan bersepatu. Tentu kita ketahui bersama, orang-orang di Jepang yang sering kita kaitkan dengan budaya modern, berolahraga dengan dress tersebut. Sebaliknya, di Gontor, saat beribadah, seluruh santri diwajibkan mengenakan koko, sarung, gesper, peci, dan sajadah. Satu tanda bahwa pendidikan modern sudah ditanamkan sejak dini.
Pun dengan kegiatan yang begitu padat. Di Gontor, dibiasakan dengan kesibukan padat. Mengapa demikian? Karena hal tersebut adalah pendidikan penting. Tak perlu ada seminar cara membagi waktu, namun cukup dengan menenggelamkan para santri dalam kesibukan. Seperti halnya gravitasi, tinggal mendorongnya jatuh ia akan berlari cepat ke arah tanah. Maka para santri dibiarkan saja dalam kesibukan, mereka akan belajar membagi waktu, mencari cara agar semua terpenuhi, berpikir cerdas menata diri, dan yang terpenting, adalah tenang dalam kesempitan. Seperti motto anak pramuka, bersiul dalam badai.
Satu hal lagi, saat beberapa waktu lalu saya menemani tamu dari luar negeri, setelah Maghrib saya ajak mereka berkeliling Pondok. Sekilas di mata saya, tak tampak hal menarik, semuanya berjalan rutin begitu saja. Namun saat itu, para tamu berkilah, “Para santri tampak sibuk sekali ya, tak ada satupun yang menganggur.” Tamu lain menambahi, “ Iya, seperti orang Jepang saja.”
Komentar tamu ini cukup menyentak saya. Memang benar. Karena terlalu biasa, sehingga hal luar biasa di mata tampak semu. Setelah Maghrib tak ada satu pun anak yang menganggur, duduk-duduk di depan asrama. Dari anak paling kecil sampai paling besar, tenggelam dalam kesibukan. Ada yang ingin ke dapur, ada yang ingin ke kantor Administrasi, hingga hal paling sepele, ke koperasi membeli sabun. Namun setidaknya semua kegiatan tersebut telah direncanakan. Dalam satu waktu kosong tersebut, beberapa kebutuhan harus terpenuhi. Ke koperasi dulu, kemudian makan, dan mengambil papan nama di Bagian Keamanan. Tiga hal ini harus dibagi waktunya dengan cermat dan cerdas.

Maka label modern di Pondok tak sekedar pajangan di nama depan Gontor. Namun benar-benar menjadi jiwa dan nafas. Satu falsafah yang mendarah daging dalam diri para santrinya, yang nantinya akan berguna baginya di masa mendatang.binhadjid

Kamis, 03 Maret 2016

Mari Menulis!

Belajar menulis berarti belajar berpikir. Belajar menulis berarti belajar merenung. Belajar menulis berarti belajar mengerti sesuatu. Belajar menulis berarti kembali hidup. Belajar menulis berarti menjauhi kematian. Belajar menulis berarti hebat. Belajar menulis, berarti membuat hidup menjadi berarti.
Setiap gerakan jari yang membentuk sinyal-sinyal huruf dapat mengubah dunia dalam tempo cepat. Pemikiran-pemikiran ulung dan konsep-konsep mendasar, dapat menjadi dasar revolusi sebuah bangsa. Banyak peperangan berawal hanya dari sebuah ucapan, dan banyak tulisan yang dapat membuat sebuah negara tak melupakan jasa para pahlawannya.
Itulah mengapa Pandai Tulis sangat dihormati pada masanya. Menulis puisi bagi dewasa ini adalah hal sepele, namun menjadi hal fenomenal di masa orang tak tahu apa itu pena dan kertas.
Huruf-huruf yang masih terpisah tak bermakna tanpa diikat dalam sebuah kata. Sebuah kata tak dapat dipahami tanpa dilengkapi dengan kata-kata lainnya. Dan kalimat-kalimat itu tak akan memiliki keampuhan tanpa disusun secara tertib sehingga menghasilkan sebuah taste yang klimaks.

Dan di tangan anak manusialah, huruf hingga kalimat itu dapat disusun. Anak manusia itu biasa disebut dengan penulis. Maka, marilah menulis.binhadjid

Kamis, 05 November 2015

Opera Bento di 'Bukan PG Biasa'

Bento, diperankan oleh Muhammad Ihsan
Di pertengahan masa latihan menuju ‘Bukan PG Biasa’, ada satu acara tambahan yang diamanatkan pada saya. Acara baru ini tergolong unik. Acara ini membutuhkan kemampuan vokal, drama, dan koreografi di saat bersamaan. Yang saya maksud di sini, adalah Opera.
Kami mengemas Opera dalam ‘Bukan PG Biasa’ kali ini dengan judul ‘Alangkah Lucunya Negeri Bento’. Sepintas, memang terdengar seperti film ‘Alangkah Lucunya Negeri ini’ yang tampil di layar lebar beberapa tahun lalu. Namun, sebenarnya, isinya jauh berbeda, hanya misi saja yang berdekatan.
Opera ini berkisah tentang perjuangan sekawanan anak SD bersama gurunya dalam mempertahankan bangunan sekolahnya yang akan digusur. Untuk memenuhi ekpektasi, pemeran kesepuluh anak SD ini haruslah mempunyai kemampuan akting dan vokal. Cukup sulit mendapatkan para pemeran dengan kemampuan yang diinginkan, harus gerilya hingga ke akar-akar. Kami yakin, potensi itu ada.
Akhirnya, kami mendapatkan Rafif dan Ahmad. Dua bocah kelas 2 dengan suara oktaf tinggi, ditambah 8 anak lainnya yang memiliki vokal baik. Untuk aktor utama, karakter yang diinginkan adalah seorang guru, jadi pemeran harus dapat menyanyi sekaligus memerankan karakter guru. Kami memilih Fahmi Dwi Tarwanto, anak kelas 6 dengan perawakan dewasa, suara syahdu, dan kemampuan akting di atas rata-rata.
Nah, ada satu pos peran yang sangat sulit untuk memilih pemerannya. Yakni menjadi ‘Bento’, alias si bos perusahaan yang memimpin pengusiran sekolah. Beruntung kami menemukan talenta dalam diri seorang vokalis Nasyid, namanya Ihsan. Anak kelas 6 ini memiliki karakter yang terbilang unik. Bagaimana tidak, gaya bicara dan berjalan yang linglung, terkesan ngawur, sembrono, dan tak tahu aturan. Dalam dunia nyata, anak ini memang jarang memiliki kawan. Namun dalam dunia akting, ternyata bocah ini mampu memenuhi harapan.
Pak Guru, diperankan oleh Fahmi Dwi
Usai penggusuran ilegal oleh Bento dan komplotannya, cerita berlanjut dengan selebrasi Bento atas kesuksesannya menggusur sekolah. Namun, tak lama kemudian, ia ditangkap polisi. Di dalam penjara, ia bertemu dengan Joko, seorang petani yang dijebloskan ke bui karena mencuri tebu. Tak berselang lama, Bento dapat lolos dari penjara karena polisi penjaga dapat dengan mudahnya disuap. Saat lolos, ia menjadi gelandangan karena seluruh asetnya telah disita negara. Opera diakhiri dengan situasi masuk kelas yang kembali normal usai penggusuran.
Sepintas, cerita dalam Opera ini biasa saja. Namun, yang menjadi ruh dalam Opera ini, adalah iringan musik organ live. Beruntung kami mendapat servis dari salah seorang anak kelas 4, namanya Arkan. Kemampuan luar biasanya dalam memainkan organ, membuat Opera menjadi sangat hidup. Ada beberapa lagu masyhur yang dinyanyikan, seperti ‘Dunia Berputar’ (Sherina), ‘Tak ada yang Abadi’ (Peterpan), ‘Bento’ dan ‘Surat untuk Wakil Rakyat’ (Iwan Fals), ‘Melayang’ (Dams Family), dan ‘Kertaradjasa’ (Djaduk). Adapun beberapa lagu sisanya, adalah karangan sendiri.

Dengan kisah unik, aktor-aktor mumpuni, tata busana lengkap, tata rias memadai, tata panggung profesional, serta diiringi musik live, membuat para penonton begitu tertarik dengan Opera di ‘Bukan PG Biasa’ ini. Lucu, mengesankan, menghibur, syahdu, asyik, dan baru, itulah komentar para penonton usai acara.binhadjid   

Senin, 19 Oktober 2015

Puisi "Jaka" di 'Bukan PG Biasa'

Sulthan Adam, Putra, Dhiyaul Fikri, Ibnu Rusyd, dan Mahbub
sesaat sebelum penampilan.
Saya pribadi, bersama seorang kawan dari Pembimbing Kelas 6, sudah bercita-cita sejak dulu, 3 hingga 4 tahun yang lalu bahkan, bahwa untuk PG kelas 690 mendatang, puisi yang ditampilkan adalah puisi gubahan Emha Ainun Najib dengan penyajian khas Kiai Kanjeng.
Tanpa berpikir panjang, kami merujuk pada banyak pementasan Kiai Kanjeng, puisi Emha, hingga syair-syair yang diunggah dalam internet.
Dalam 'Bukan PG Biasa' kali ini, kami mengangkat sosok ilustrasi bernama "Jaka". Maksud kami di awal, hanyalah mengikuti pementasan puisi monolog yang ditampilkan di youtube dengan judul "WS Rendra Pesan Pencopet pada Pacarnya". Dalam penampilan yang cukup mengundang decak kagum penonton tersebut, ada satu tokoh ilustrasi yang selalu disebut-sebut oleh si pembaca puisi, yaitu tokoh "Siti". Nah, menurut kami, yang menghidupkan puisi monolog orang tersebut adalah adanya lawan bicara khayal. 
Inilah yang menginspirasi kami untuk memunculkan tokoh khayal dalam pementasan puisi 'Bukan PG Biasa' kali ini. Karena aliran puisi dialirkan pada kondisi konflik internal dalam tubuh pemerintahan Indonesia, maka tokoh yang dipilih haruslah memiliki nama khas orang Indonesia. Sejenak terbesit nama Sri, Paijo, Joko, hingga nama Budi, yang pasti, nama tersebut asli dari bahasa Indonesia atau Sansekerta, bukan serapan bahasa Arab. Usai berdiskusi panjang, kami memilih nama "Joko". Namun, beberapa kali kami berlatih menggunakan nama ini untuk menyindir keadaan bangsa ini, kok selalu saja arah puisi kami jadi mengalir kepada Pak Presiden yang kebetulan memiliki nama yang sama. 
Jujur, kami tak bermaksud sama sekali untuk mengambil langkah oposisi dari pemerintahan saat ini. Kalaupun saat ini presidennya SBY, Suharto, ataupun Habibie, toh kami tetap akan mengkritisi kondisi parah negeri ini. Agar tak menimbulkan benturan dengan pihak manapun, maka kami ubah sedikit tokoh ilustrasi tersebut, yaitu menjadi "Jaka".
Ada 5 pembaca puisi pada 'Bukan PG Biasa' ini. Yaitu Mahbub dan Ibnu Rusyd yang sejak kelas 5 kemarin sudah tampil di Drama Arena, Dhiyaul Fikri, anak kelas 6 yang baru masuk di PG ini, serta Putra dan Sulthan Adam yang masih duduk di Kelas 2 dan 3. Khusus untuk Putra, kami sangat beruntung mendapatkan bakat sehebat anak yang satu ini. Tubuh mungil, tampang cute, perawakan bocah, mimik yang bisa diubah dalam kondisi apa saja, dan satu lagi, yang kami sangat bersyukur bisa mendapatkan servis bocah ini, yaitu suara 'serak-serak basah'. Bakat suara ini membuat kalimat apapun yang keluar dari mulut bocah ini terdengar syahdu, merdu, dan mengena di hati.
Puisi diawali dengan gambaran keindahan Indonesia masa dulu, dibacakan oleh Putra berduet dengan Sulthan Adam. Puisi ini diiringi dengan alunan gamelan yang memainkan lagu-lagu khas Indonesia. Dilanjutkan dengan Dhiyaul Fikri yang membacakan puisi monolog mirip si pembaca pada "Pesan Pencopet pada Pacarnya". Otomatis puisi ini tanpa iringan lagu apapun.
Puncak puisi kali ini adalah pada puisi Mahbub dan Ibnu. Dua anak ini mengkritik keras pemerintah lewat sajak-sajak Emha Ainun Najib yang digabung dengan puisi buatan mereka sendiri. Untuk menambah efek 'seram', gamelan pun mengiringi dengan nada 'horor'.  
Nah, di saat kondisi memuncak, Putra, dengan suara syahdunya berteriak menghentikan hujatan-hujatan Mahbub dan Ibnu. Penghentian ini juga diikuti dengan berhentinya gamelan. Jadilah panggung dan seisinya vakum, penonton juga tersentak, semua mata tertuju pada Putra. Dalam kondisi 'vacuum of power' itu, Putra melanjutkan beberapa lirik yang menjadi intisari dari keseluruhan puisi ini.
Penampilan Putra dalam puisi ini mendapatkan banyak pujian.
Alhamdulillah, dengan beberapa gebrakan dalam penyajian puisi dalam 'Bukan PG Biasa' ini, dewan juri dan penonton memberikan apresiasi yang luar biasa. Tepuk tangan riuh dari para penonton sepanjang penampilan, dan di akhir acara, juri mengganjar acara puisi ini dengan nilai "10" tanpa cacat.
Ini tak lain dan tak bukan, berkat konsep yang sudah dicita-citakan bertahun-tahun sebelumnya. Yaitu konsep gamelan yang diletakkan di tengah-tengah panggung. Meski sulit, namun akhirnya dapat dilakukan. Secara pribadi, saya ucapkan terima kasih pada kawan Ahmad Badruttamam yang telah memberi banyak sekali ide dan masukan untuk puisi kali ini.binhadjid

Jumat, 16 Oktober 2015

Persiapan Matang di 'Bukan PG Biasa'

Sudah lama sekali tak menulis di blog ini, makanya tangan saya ini terasa gatal.
Sejatinya, semenjak lebaran kemarin ada begitu banyak hal yang ingin ditumpahkan di blog ini. Entah perasaan bahagia, sedih, penat, hingga euforia dan atmosfir di beberapa situasi, rasanya amat sayang jika tidak 'diabadikan' dalam blog ini.
Dari keseluruhan pengalaman akhir-akhir ini, yang sepertinya paling sayang kalau dilewatkan adalah pengalaman menjadi pembimbing siswa akhir KMI di Panggung Gembira.
Subhanallah, ternyata hal tersebut bukanlah perkara mudah. Untuk mewujudnyatakan slogan kami, "Bukan Panggung Gembira Biasa", maka harus ada effort yang lebih untuk mencapai cita-cita tersebut. Dan itu semua sudah kami fikirkan matang semenjak bulan Ramadhan, sebagian acara sudah didapatkan konsepnya sejak setengah tahun sebelumnya. Ada juga beberapa acara yang sudah mulai diraba sejak setahun atau dua tahun sebelumnya. Bahkan, percaya atau tidak, ada juga acara yang konsepnya sudah dicita-citakan semenjak 4 tahun sebelumnya.
Maka tidak aneh jika rundown acara sudah bisa print out jauh sebelum latihan itu dimulai. Ada 60 acara lebih yang kami susun, hampir dari seluruh acara tersebut adalah murni dari hasil pemikiran anak-anak tim inti Panggung Gembira.
Karena persiapan sejak awal sudah matang, maka tak ayal, kami memiliki begitu banyak variasi acara untuk PG kali ini. Saat gladi pertama saja, baru dua pertiga acara ditampilkan, waktu sudah tak mencukupi. Akhirnya dengan pemikiran mendalam, kami berhasil menyisihkan beberapa acara yang tak layak tampil.
Dalam perjalanannya pun, latihan PG harus menemui banyak sekali rintangan. Para pembimbing yang disibukkan di kepanitiaan Wisuda, LP3, dan PKA, serta kesibukan di bagian masing-masing. Pun juga dengan siswa akhir KMI, yang jauh lebih sibuk di kepanitiaan-kepanitiaan tersebut.
Kami melakukan 6 kali gladi, dengan masa latihan 50 hari. Namun jika dikurangi dengan beberapa hari yang bertabrakan aktivitas Pondok, maka 'netto'nya hanya sekitar 30 hari.
Alhamdulillah, berkat persiapan panjang dan perhitungan matang yang saya beberkan di atas tadi, serta konsep yang sudah ada sejak jauh-jauh hari, Panggung Gembira kali ini mengundang decak kagum dari ribuan penonton yang hadir. Tentang acara, pelaksanaan acara di hari H serta gebrakan-gebrakan lainnya, akan saya tuangkan dalam tulisan di bagian lainnya.binhadjid

Jumat, 13 Februari 2015

Santri 'Militant High Level'

Ada begitu banyak ruh persaingan diciptakan di pesantren kami. Perlombaan dalam berbagai kategori digelar dengan waktu berurutan dari satu lomba ke lomba lainnya. Para santri tak pernah diberi waktu kosong menganggur tanpa pekerjaan. Perlombaan itu menyebabkan terjadinya persaingan. Persaingan itu datang dengan sendirinya, melihat situasi panas kompetisi di tiap pagelaran lomba. Tiap kelompok menginginkan kemenangan, kemenangan dan kemenangan.
Meski sejatinya, usai sebuah persaingan sehat, tidak ada satu pihak pun yang kalah, mungkin hanya merasa kalah. Saat satu kelompok kalah, maka dia akan memberi apresiasi dan tepuk tangan kepada sang pemenang. Sang pemenang pun akan balik memberi apresiasi kepada pihak yang kalah atas sportivitas yang dibangun. Begitu juga sebaliknya, jika kelompok pemenang tadi mengalami kekalahan, mereka akan melakukan sebagaimana pihak yang kalah tadi perbuat. Jadi, tiap orang memiliki porsi kemenangan masing-masing, hanya saja tugasnya saja berbeda.
Yang jadi pertanyaan, mengapa tiap perlombaan yang digelar, bisa melahirkan sebuah ruh persaingan diantara peserta ajang?
Sebelum menelaah jawaban, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu ‘orang’ yang berada di balik setiap kelompok tersebut. Orang-orang yang berada di tiap kelompok tersebut ternyata bukanlah para pecundang, namun para fighter yang selalu dididik dengan pendidikan santri militant high level. Saya katakan, militan tak selalu berarti militer, namun yang diambil di sini adalah jiwa militan, jiwa berdisiplin dan jiwa pantang menyerah.
Jadi, jangan aneh apabila ada sebuah ajang yang diciptakan diantara mereka, menimbukan persaingan ketat nan sengit. Ini karena orang-orang yang berada di balik persaingan itu, sudah mempunyai mental-mental pesaing hingga titik akhir, mental pejuang tak patah arang dan mental juara yang terasah.

Ini semua tak akan tercipta, tanpa sebuah lingkungan mendukung yang didesain sedemikian hebatnya. Inilah pesantren kami, lingkungan ‘orang-orang’ militan, santri dan pejuang. Semua berkat proses panjang nan melelahkan selama 89 tahun. Siapa pendesain lingkungan para pejuang ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah Kiai para pendiri dengan bantuan dari para anshar dan generasi penerusnya.binhadjid

Rabu, 04 Februari 2015

Gontor dan Endut Blegedaba

Endut Blegedaba merupakan lava yang terdapat dalam Kawah Candradimuka. Lava yang dikenal dengan panas tujuh kali lipat dari panas api di bumi. Mendengar Kawah Candradimuka, yang terbesit dalam benak pastilah seorang ksatria pewayangan Gatotkaca. Namun sebenarnya, ada beberapa bayi yang kelahirannya tak diharapkan, pernah ‘diceburkan’ ke dalam kawah ini. Sebut saja Bambang Wisageni, Boma Narakasura dan Bambang Nagatatmala juga pernah dijebloskan ke dalam kawah ini.
Namun, uniknya, menurut cerita pewayangan, tak satupun dari bayi yang masuk, mati karena Endut Blegedaba. Yang ada, para bayi tersebut justru ‘digodok’ dengan panasnya lava, suhu kawah yang sangat tinggi dan keadaan api yang membara, membuat mereka semakin sakti dan kuat. Artinya, mesti tak semua, justru penggemblengan dalam keadaan kritis dan mencekiklah, yang dapat melahirkan ‘orang sakti’ macam Gatotkaca di dunia pewayangan.
Mendengar cerita ini, kita menjadi teringat dengan pidato Bung Karno. “Tidak ada pemimpin dilahirkan dari kutub utara atau selatan, karena di sana hanya adem ayem tentrem. Akan tetapi, dari bangsa Indonesia ini, Kawah Candradimuka ini, bisa melahirkan pemimpin-pemimpin hebat dunia.” Kurang lebih demikianlah pidato Bung Karno di depan rakyat.
Negeri yang berisi banyak gejolak, konflik di sana-sini, permasalahan abadi dan kekalutan yang tak kunjung selesai ini, menurut Bung Karno, justru akan melahirkan orang-orang besar yang terbiasa menghadapi masalah-masalah besar.
Beberapa hari terakhir ini, Pondok Modern Darussalam Gontor sedang dalam masa super sibuknya menghadapi kegiatan Gontor Olympiad. Jika kita berkeliling pada pagi atau sore hari, tak satupun anak yang tampak menganggur. Tiap orang dari mereka bergerak dinamis dalam setiap perlombaan, perjuangan, persaingan hingga terkadang sedikit pertengkaran ringan. Ini semua terlahir dari sikap memperjuangkan kelompok masing-masing, namun masih tetap dalam koridor pendidikan ala Gontor hasil desain para Kiai.
Gontor yakin, bahwa semakin banyak pergolakan dan ruh persaingan yang diciptakan di pondok ini, akan semakin membuat anak-anak berpikir dan berjuang keras. Dalam kondisi tersebut, anak-anak dituntut untuk berpikir dan cepat mengambil keputusan, seperti halnya kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu mampu mengambil keputusan dengan cepat meski di saat sempit.
K.H. Hasan Abdullah Sahal mengatakan bahwa tidak ada pendidikan yang ahsan (paling benar). Yang ada adalah pendidikan yang ansab (paling sesuai). Dan Gontor Olympiad ini merupakan bagian dari pendidikan yang diyakini ansab dengan visi dan misi Gontor, yakni melahirkan pemimpin-pemimpin perekat umat. Tanpa kegiatan ekstra dan menguras tenaga, anak-anak hanya akan menjadi singa ompong yang tak mampu mengaum.
Wal usdu lau la firoqul ghobi ma iftarosyat. Seekor tak akan menjadi buas jika tak digembleng dengan kehidupan keras di hutan. Sejak lahirnya pun, anak singa sudah diancam akan dimakan oleh ayahnya sendiri. Jadilah kerasnya kehidupan singa sudah dihadapinya sejak lahir. Maka saat dewasa, singa layak disandangkan menjadi raja hutan, karena sudah ‘biasa’ menghadapi rintangan di belantara hutan.
Gontor dan Kawah Candradimuka, meski tak mutlak sama, merupakan dua tempat penggemblengan yang dapat melahirkan pemimpin-pemimpin besar dan ksatria-ksatria pejuang umat. Walaupun kawah tersebut hanya ada dalam dunia pewayangan, namun ini dapat menjadi gambaran bagi orang yang masih asing terhadap pesantren. Bahwa apa yang ada di pesantren, sejatinya adalah pendidikan ‘keras’ untuk melahirkan pemimpin hebat.

Maka Gontor Olympiad dan Endut Blagedaba, sekali lagi, meski tak mutlak, adalah dua variabel yang tak bisa dilepaskan satu sama lain. Gontor Olympiad di pondok, sudah menjadi semacam ajang persaingan yang akan menggembleng siapapun di dalamnya. Seperti halnya Endut Blagedaba yang akan menggodok siapa saja yang ‘berani’ masuk ke Kawah Candradimuka.binhadjid

Minggu, 18 Januari 2015

Benarkah Negara Barat Mengalami Kemajuan?

“Apakah negara barat benar-benar mengalami kemajuan?”
“Jika memang demikian, bagian mana yang mengalami kemajuan?”
Negara-negara barat saat ini justru mengalami kemunduran peradaban. Gereja-gereja mereka mulai ditinggalkan oleh para jemaatnya, bahkan ada beberapa yang dijual menjadi masjid. Pusat kegiatan masyarakat barat justru berada di diskotik ataupun di stadion-stadion sepakbola.
Tentang Charlie Hebdo, hampir semua petinggi negara barat amat mengutuk penyerangan tersebut, dan menyudutkan Islam dalam setiap ucapannya. Seperti halnya Yesus dalam agama Kristen yang berkali-kali mereka animasikan, maka mereka menganggap bahwa menganimasikan Nabi Muhammad Saw adalah sesuatu yang lumrah. Padahal hal tersebut sangat dikutuk oleh umat muslim.
Selain itu, peradaban barat merupakan campuran dari peradaban Yunani kuno yang dikawinkan dengan peradaban Romawi dan disesuaikan dengan elemen kebudayaan bangsa Eropa, terutama Jerman, Inggris dan Prancis. Urusan filsafat dan seni, mereka berkiblat kepada Yunani, jika tentang hukum dan ketatanegaraan, mereka berkiblat pada Romawi.
Umat Islam di Eropa kini sangat berkembang pesat. Di Prancis, Inggris dan Belanda, imigran muslim hampir-hampir memenuhi setiap sudut kota. Masjid-masjid menjamur di mana-mana. Jamaah shalat semakin menyemut. Sedangkan gereja, semakin ditinggalkan jemaatnya seiring berjalannya waktu.
Hari ini, di negara-negara eropa, umat muslim begitu banyak. Jika kita hendak mencari makanan halal, maka di lorong-lorong kota, sudut-sudut pemukiman, begitu banyak kaum imigran muslim menjual makanan-makanan berlabel halal. Sedangkan penduduk asli, hanya bisa melongo melihat negaranya diisi oleh para imigran muslim.
Bahkan seorang Geert Wilder, seorang sutradara yang begitu benci dengan Islam hingga membuat film Fitna tahun 2005 silam, memprediksikan bahwa tahun 2030, masyarakat muslim di Belanda mencapai 80 persen. Peradaban barat kini menuju ambang kehancuran, tampaknya saja mengalami kemajuan dalam keilmuan dan perokonomian, padahal kedua hal tersebut tidak sepenting moralitas, mentalitas serta sudut spiritualitas dalam memajukan sebuah bangsa.
Bicara tentang toleran, kaum liberal di Indonesia kini sok menjadi penengah antara muslim dengan barat. Padahal sejak Rasul mendapatkan wahyu hingga hari ini, ajaran yang diajarkan kepada kita memang sangat berbeda dengan ajaran mereka. Maka jika ada yang mulai toleran terhadap kaum homoseksual, toleran terhadap pemahaman transgender, komunis dan lain-lain, maka itu ciri orang liberal. Hingga hari ini, orang-orang liberal di Jakarta, sedang berusaha agar undang-undang penistaan agama dihapuskan seperti halnya di negara-negara barat.binhadjid


Disampaikan oleh Dr. H. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A. dalam Kuliah Umum pada Pembukaan Kegiatan Perkuliahaan Universitas Darussalam, Sabtu (17/1) lalu.

Jumat, 16 Januari 2015

Telak

Siang kemarin kami belajar banyak dari Kiai kami. Tampaknya, label kebesaran nama pesantren kami banyak membuat kami lalai. Acapkali melihat santri dari pesantren lain, kami merasa ‘lebih’ dari mereka. Entah dari segi kualitas, mental ataupun keilmuan. Apalagi jika melirik ke pesantren-pesantren tradisional, kami selalu saja merasa lebih pandai, lebih modern, atau apalah, yang jelas penyakit ‘merasa lebih’ itu selalu ada.
“Jangan sombong! Merasa lebih itu adalah penyakit iblis. Ana khairun minhu, itu yang diucapkan iblis saat disuruh menyembah Adam.”
Jadi, jika saat ini ada orang mengatakan ‘saya lebih baik’, maka dia telah terjangkit virus iblis, dan harus segera diberikan pertolongan pertama.
Ada tiga pertanyaan yang disodorkan kepada kami siang itu. Tiga pertanyaan yang menyentak kami, menggertak sekaligus membuat kami malu.
“Apakah orang yang hadir di ruangan ini, ada 30 persen yang sudah memahami seluruh isi Qur’an?”
Salah seorang guru senior menjawab, “tidak sampai.”
Kiai menimpali, “jika 20 persen?”
“Belum sampai.”
“Lantas, apa hanya 10 persen?”
“Kira-kira.”
Padahal, hadirin munasabah itu lebih dari 400 orang. Ada yang bertitel doktor, magister, sarjana dan sebagian besar merupakan mahasiswa reguler.
Tak hanya itu, Kiai melanjutkan pertanyaan kedua dan ketiga dengan cara yang sama.
“Apakah orang yang hadir di ruangan ini, ada 30 persen yang sudah khatam membaca bulughul maram?”
Jawaban guru senior tadi pun sama. Kami pun semakin merasa malu.
Pertanyaan ketiga, ““apakah orang yang hadir di ruangan ini, ada 30 persen yang sudah khatam membaca kitab-kitab nahwu semacam alfiyah, ajrumiyah atau kitab lainnya?”
Untuk ketiga kalinya sang guru senior menjawab dengan jawaban yang sama. Kami, terutama mahasiswa yang menjurus ke bahasa Arab, tentunya paling malu.
Lantas, apa yang bisa kita banggakan? Tiga pertanyaan tadi adalah pertanyaan mendasar mencakup keilmuan dasar atau kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh seorang santri.
Jika ia belajar di pondok tahfidz, maka seharusnya para santri lebih memahami isi Qur’an. Jika pondok salaf, maka buku-buku Nahwu macam Ajrumiyah atau Alfiyah adalah konsumsi sehari-hari. Juga buku bulughul maram, sahih bukhari atau kitab lainnya, tentunya santri di pondok salaf lebih tahu dan lebih menguasai.
Pantaskah kita disebut seorang santri? Setiap individulah yang berhak menjawabnya. Namun, minimal, dengan tiga pertanyaan tadi, kita menjadi lebih tahu, sampai di mana kadar keilmuan kita. binhadjid


Jumat, 02 Januari 2015

Dito dan Kota Putrajaya

(Resensi “Nyatanya Tanah Surga” – Bagian 3/Selesai)

Tak hanya cita-cita tinggi sang Kiai yang menjadi daya tarik novel ini. Namun kisah kocak Yusron dan Agus saat berpetualang ke Malaysia. Apalagi dengan kehadiran sosok Masau Dito, si remaja tanggung yang merupakan lulusan cumlaude Fakultas Teknik UGM Jogja. Meski berkepribadian serba ‘masa bodoh’, namun Dito adalah orang yang berprinsip, terutama terhadap nasehat ibunya, “Jadilah orang yang berguna orang banyak.”
Nah, nasehat ibu Dito inilah yang membuat Dito tertarik dan mau bergabung dalam petualangan road to Malaysia. Ini semua karena nasehat tersebut sama persis dengan konsep Khoirunnas anfa’uhum linnas yang diajarkan oleh Agus.
Selain Dito, kisah perjalanan tersebut juga dibumbui dengan pertemuan Yusron dengan Ustadzah Hasna. Hingga akhirnya Yusron berkesempatan mampir ke pondok Lik Sholah, paman Ustadzah Hasna. Sayang, kisah cinta kocak tersebut hanya berakhir dengan secarik surat dari Ustadzah Hasna kepada Yusron. Ini karena memang kedua pihak sama-sama mempunyai background agama yang baik.
Tentang Malaysia, novel ini menceritakan suasana, kemajuan dan kemodernan yang ada di Kuala Lumpur International Airport dan Kota Pemerintahan Putrajaya. Hal ini dikarena petuangan Yusron, Agus dan Dito melewati kawasan tersebut. Ada juga cerita tentang menginap di Sangri-La Hotel dan makan siang di Troika Sky Dining yang terletak di Menara KLCC lantai 22.
Dengan kisah inspiratif, humor hingga kisah petualangan yang disajikan, membuat Novel Nyatanya Tanah Surga menjadi bacaan wajib bagi generasi muda yang ingin berbuat “sesuatu” bagi kemajuan bangsa ini. binhadjid

Dari Pesantren untuk Indonesia

(Resensi “Nyatanya Tanah Surga” – Bagian 2)

Ide cerita ini diambil dari sosok Kiai di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di mana sang Kiai selalu memberi banyak wejangan, nasihat dan arahan. Terutama tentang keadaan bangsa ini. Keadaan yang rumit dan sengit.
Namun, Kiai yakin, bahwa dengan peradaban pesantren ini mampu membawa perubahan. Karena di pesantren ini, para santri diajarkan five commandments  atau yang lebih sering disebut dengan panca jiwa, yaitu Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyyah dan kebebasan. Dengan kelima jiwa itu, para santri diyakini mampu terlahir sebagai pemimpin dengan kapabilitas dan kualitas yang mumpuni, sehingga dapat membawa perubahan bagi bangsa ini.
Hingga kini, banyak pemimpin-pemimpin bangsa yang terlahir dari Pondok Gontor. Mulai dari para pemimpin ormas Islam, menteri, hingga para petinggi dari unsur legislatif maupun yudikatif.
Kisah ini dapat membuka mata masyarakat tentang pandangan dan komentar miring yang selama ini dicapkan kepada pesantren. Bahwa pesantren anti pemerintah, anti kurikulum negara hingga dicap sebagai sarang teroris.

Ternyata tidak, justru sejarah awal membuktikan, bahwa Kiai dan santri mempunyai andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Maka sekarang pun, para santri tetap dididik dan diajari bagaimana cara mengisi kemerdekaan dengan hal-hal bermanfaat.

Kamis, 01 Januari 2015

Masa Kritis Pesantren Harapan Bangsa

(Resensi “Nyatanya Tanah Surga” – Bagian 1)

Berawal dari situasi kritis yang dialami Pesantren Harapan Bangsa, Kiai Mansur, selaku pengasuh harus segera melakukan regenerasi. Beliau merasa bahwa saat untuk menyerahkan tongkat estafet telah tiba. Estafet harus berjalan, karena ia bagian dari hukum alam.
Namun, permasalahannya sangat kompleks, siapa yang akan menggantikan beliau? Apakah Yusron selaku santri senior? Ataukah Agus, Abdullah, Roja dan beberapa santri senior lainnya?
Sepertinya tidak.
Kiai Mansur lebih mempercayakan hal ini kepada Ustadz Praja. Seorang alumnus Pesantren tersebut belasan tahun lalu. Dahulu Ustadz Praja merupakan anak kesayangan Kiai Mansur. Dan kini, Ustadz Praja sudah menjadi “orang” di Malaysia sana.
Guna menjemput Ustadz Praja, Kiai mengutus Yusron dan Agus berangkat ke Malaysia. Di tengah perjalanan, mereka berdua bertemu dengan Dito yang berkenan mengantarkan mereka berdua ke Malaysia.
Bagaimana kisah petualangan seru Yusron, Agus dan Dito ke Malaysia? Termasuk pertemuannya dengan Ustazah Hasna, putri cantik Kiai Mahmud asal Jombang? Apakah Ustadz Praja berkenan kembali ke pesantrennya? Lantas bagaimana keadaan Kiai Mansur dan Pesantren Harapan Bangsa selama ditinggal oleh Yusron dan Agus, selaku tulang punggung pesantren tersebut?

Itulah kiranya kisah yang disajikan dalam Novel “Nyatanya Tanah Surga”. Novel karangan Binhadjid ini merupakan adaptasi dari kisah insipiratif Drama Arena siswa kelas 5 KMI Pondok Modern Darussalam Gontor.

Senin, 29 Desember 2014

Genta Jam Satu Siang

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, ‘Genta’ diartikan semacam alat bunyi-bunyian atau lonceng. Arti di kamus tersebut seringkali hanya ditafsirkan sebagai suara penanda dengan perangkat listrik sekali tekan akan berbunyi, seperti halnya di sekolah-sekolah modern ataupun kawasan pekerjaan umum. Pesantren kami menyebutnya dengan jaros.
Namun, walau jaros diletakkan di tempat umum, tak ada seorang pun santri yang berani menyentuhnya kecuali yang bertugas. Seakan ada aura tersendiri saat kita berpapasan dengan jaros yang tergantung di jalanan umum, karena memang jaros tersebut memiliki nilai kesakralan tersendiri. Jika suatu saat berbunyi tak pada waktunya, para punggawa pesantren kami akan bertanya-tanya, penegak disiplin akan meneliti, hingga pada akhirnya, pelakunya akan mendapat hukuman setimpal.
Dari sekian banyak jaros yang menggema, ada dua waktu jaros yang unik untuk dibahas. Salah satu jaros ini mengakibatkan density (kepadatan) menjadi vacuum (kekosongan). Dan sebaliknya, genta yang satu lagi mengakibatkan vacuum menjadi density.
Tiap hari menjelang jamaah shalat Maghrib di Masjid Jami’, keberangkatan para santri di pesantren kami dimulai pukul setengah lima sore dan diakhiri dengan suara jaros yang terkadang dipukul jam lima, jam lima lewat lima menit, ataupun jam lima seperempat. Kegaduhan para santri yang awalnya begitu riuh menuju masjid, menjelang jaros dipukul, keriuhan tersebut semakin menjadi. Terutama para santri yang masih saja berada di asrama. Mereka bergegas berlari menuju masjid, entah sarung, peci, baju koko sudah sempurna terpakai atau belum.
Nah, saat jaros dipukul, density yang baru saja memuncak, dalam waktu singkat, berubah menjadi vacuum situation. Di depan masjid tak terdapat seorang santri pun yang masih berjalan menuju masjid, yang ada hanya para penegak disiplin berdiri bersama para muta’akkhirin (orang-orang yang terlambat).
Namun, yang menurut saya lebih menarik, adalah dari vacuum situation menuju density situation. Dan salah satunya, terjadi saat jaros pukul satu siang.
Menurut hukum organisasi, tidak ada santri yang boleh keluar dari rayon sebelum jaros jam satu siang. Mereka wajib berada di asrama masing-masing, menunggu jaros tersebut berdentang. Meski ada saja santri yang usil dan melanggar peraturan tersebut.
Karena kesibukan, para pengurus rayon memang tidak begitu mengindahkan disiplin tersebut, hanya penegak disiplin pusat saja yang memperhatikan. Jadilah para santri keluar rayon sebelum saatnya, mengendap di sekitar jalanan protokol, menunggu jaros berbunyi. Sebagian diantara mereka ada yang hendak cukur rambut, makan di dapur, mengurus pembayaran di kantor Admnistrasi hingga jajan di kantin. Mereka khawatir, jika terlambat menuju tempat-tempat tersebut, akan berdiri di antrian paling belakang.
Dan benar saja, saat jaros berbunyi, ratusan santri berhamburan keluar dari sudut-sudut pesantren. Mereka mempunyai kepentingan masing-masing, di tempatnya masing-masing pula. Karena sempitnya jalan, seringkali terjadi tabrakan yang tak diinginkan, hingga mengakibatkan beberapa piring pecah, ataupun luka-luka ringan. Meski bertabrakan, usai kejadian, tak ada tuntut ganti rugi ataupun perdebatan sengit mencari siapa yang salah, namun kedua belah pihak segera bangkit untuk berlari menuju tujuan masing-masing.
Dengan perubahan pergerakan ini, terjadi perubahan situasi dari kekosongan menuju kepadatan. Sekali lagi, perubahan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat, hitungan menit, bahkan detik. Ini mengingatkankan kepada cerita bibi saya selama hidup di negara Amerika Serikat, yakni tentang disiplin bermain air di pantai. Sebelum pukul sepuluh pagi, para wisatawan dilarang ‘menyentuh’air di pantai tersebut. Tanda diperbolehkannya adalah dengan suara sirine panjang. Tidak ada satupun wisatawan ataupun anak mereka yang menyentuh air sebelum sirine tersebut, karena memang security system belum berlaku sebelum jam sepuluh pagi. Saat sirine berbunyi, ratusan wisatawan tersebut langsung berlomba-lomba menuju air, tentunya dengan sistem penjagaan baywatch yang sudah siaga.

“Dinamis,” tampaknya itu kata yang tepat untuk sebuah peradaban ini, peradaban pesantren kami ini. Ada perubahan sistem, perubahan situasi yang ditandai dan diakhiri dengan jaros. Hingga kapanpun jaros akan selalu saja seperti itu, karena ia tak lekang oleh waktu. binhadjid

Rabu, 24 Desember 2014

"La Jadida Tahta as-Syams"

La Jadida Tahta as-Syams. Sebuah pepatah yang saya yakin jarang didengar oleh masyarakat Indonesia. Karena memang pepatah tersebut santer diucapkan oleh orang mesir kuno.
Tidak ada “hal baru” di bawah matahari. Kira-kira begitulah makna pepatah tersebut. Pepatah yang sederhana namun menyimpan makna yang mendalam. Mungkin inilah maksud Kiai di pesantren mengajari kami pepatah tersebut hari ini.
Usia dunia ini sudah begitu tua, bahkan saat Rasul melakukan perjalanan ke Sidratul Muntaha, Rasul menyaksikan ada seseorang yang amat sangat tua. Sang malaikat yang kala itu mengantar Rasul mengatakan bahwa orang tua itu adalah gambaran bumi saat ini, very very old.
Jika bumi sudah sangat tua, maka segala macam proses alam maupun peralihan peradaban dari masa ke masa sudah tak terhitung lagi. Terlalu banyak untuk kita bahas satu persatu sejarah umat manusia di muka bumi ini.
Dewasa kini, banyak muncul paham-paham baru yang mulai menyetir umat Islam ke arah menyesatkan. Mulai dari liberalisme, sekularisme dan isme-isme lainnya yang membawa umat semakin jauh dari an-nur.
Apa paham tersebut baru muncul belakang ini saja? Atau itu dagangan lama para misionaris yang tak laku pada masa lampau?
Kiai kami melontarkan pernyataan yang begitu menggelitik.
“Kalau sekarang muncul orang-orang sombong dengan kekayaan dan kecerdasannya, muncul orang-orang yang menyesatkan umat, muncul isu-isu yang memecah belah Islam, itu gak muncul sekali ini saja. Sudah lama umat Islam menghadapi hal-hal tersebut, hanya sekarang kemasannya saja berbeda. Kalau urusan manusia sombong, dari fir’aun bahkan iblis pun, sikap sombong sudah lebih dulu mereka miliki.”
Kami yang masih berusia belia, tiap membuka isu-isu di internet, dengan pemikiran dangkal dan prinsip yang terkadang masih dapat ditawar, seringkali terbawa arus dan isu menyesatkan. Mendengar ‘pencerahan’ kiai kami, kami kembali berpikir. Bahwa perang pemikiran, perang ideologi hingga perang urat syaraf bukan barang baru di dunia ini. Itu sudah terjadi sejak dulu, bahkan zaman sebelum masehi.
Maka benarlah kiranya orang mesir kuno mengatakan, “La Jadida Tahta as-Syams.” Tapi kalau tidak di bawah matahari, mungkin saja ada hal baru yang akan terjadi. binhadjid


Senin, 22 Desember 2014

Liverpool, 'Musamahah' dan Jeda Waktu Babak Pertama

Masih ingat dengan Miracle of Istanbul? Kisah perjuangan para punggawa Liverpool yang berhasil menciptakan keajaiban berkat usaha tiada henti Steven Gerrard dan kawan-kawan. Drama 120 menit yang menguras emosi bagi siapa saja yang menyaksikan.
Bagaimana tidak? 45 menit awal AC Milan dengan komando Andriy Sevchenko, berhasil memborbardir pertahanan Liverpool. Alhasil, tiga gol bersarang ke gawang Liverpool tanpa balas.
Trofi Liga Champions kali itu, seakan sudah siap untuk diterbangkan ke San Siro andai skor tersebut bertahan hingga usai.
Namun, malam itu, keajaiban terjadi Istanbul Stadium. Ratusan ribu penonton di lapangan dan jutaan pasang mata menjadi saksi akan kerja keras Steven Gerard dan kawan-kawan. Bahwa pertandingan malam itu belum usai. Dan tiupan peluit panjang, belum terdengar hingga detik itu.
Berkat strategi yang diramu dan perombakan formasi saat istirahat, si Merah berhasil membalikkan keadaan. Ini berkat kecerdasan sang pelatih, Rafael Benitez, yang berhasil membaca kelemahan AC Milan sepanjang pertandingan babak pertama.
Jeda babak pertama memang hanyalah 15 menit, namun waktu sesempit seringkali menjadi nafas, motivasi dan semangat baru. 15 Menit itu menjadi batu loncatan untuk meraih sesuatu yang hampir dianggap mustahil. Dan Liverpool, malam itu berhasil membuktikannya.
Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ujian Tulis Pertengahan Tahun maupun Akhir Tahun dilaksanakan selama 10 hari. Pada masa itu, para santri berjuang menghadapi soal-soal yang disodorkan di ruang ujian. Dan pada masa itu pula, semuanya kembali kepada kemampuan diri sendiri dan pertolongan Tuhan.
Sepuluh hari tersebut bak sebuah pertandingan sepakbola, di mana kerja keras, kemampuan diri, motivasi dan semangat, menjadi penentu hasil akhir pertandingan. Banyak dari para santri yang melewati 5 hari pertama dengan kegagalan. Mereka merasa tidak mampu banyak menjawab soal-soal yang tertera di lembaran soal. Mereka merasa gagal, seolah baru saja kebobolan banyak gol tanpa perlawanan berarti.
Namun, seperti halnya sebuah pertandingan sepakbola, Gontor memberikan jeda waktu bagi para santrinya. Jeda waktu itu bernama musamahah. Meski hanya satu hari, waktu sesempit itu dirasa sangat cukup untuk memperbaharui niat, menghela nafas, charging power, atur ulang strategi hingga perombakan formasi.
Jikalau para santri dapat memanfaatkan musamahah seperti halnya Rafael Benitez saat 15 menit rehat babak pertama dalam Final Liga Champion 2005 silam, niscaya hari-hari sisa ujian tulis, akan berlangsung seperti halnya Liverpool berhasil menyabet Trofi Liga Champions kali itu.
Rafael Benitez berhasil membaca kelemahan, menganalisa kekuatan, memperhitungkan kemampuan serta berani mengambil resiko kala itu. Maka, para santri juga harus bisa mengetahui kelemahan diri, menganalisa sebab, memperhitungkan sisa waktu dan jumlah materi ujian, serta yang terpenting adalah berani untuk mengambil resiko dengan mengubah teknik, formasi dan strategi menghadapi hari-hari ujian selanjutnya.

Dengan musamahah tersebut, niscaya para santri dapat ‘menghabisi’ lawan-lawannya pada ujian kemudian hari.binhadjid

Rabu, 22 Oktober 2014

Sebuah Puisi, Kukirim untuk Mendiang Ustadz Ali Syarqowi

Saat nafasmu ada,
Nafasku ada
Namun jiwa ini belum bertemu
Karena (mungkin) jiwaku belum siap ditemui
Oleh tamu seberat dirimu

Yang kutahu, sosokmu sosok guru tua
Yang kutahu, perawakanmu puncak kewibawaan

Aku menyesal,
Di mana masa itu, bau kencur masih menyengat
Kenapa masa itu diri ini seperti anak ‘kemarin sore’
Mengapa diri ini masih begitu jauh denganmu

Saat nafasmu tiada,
Orang-orang berlomba memuji
Tiap kata terselip namamu
Rupanya konsep “ wannasu yadhakuuna sururan” berlaku
Bukan omong kosong belaka

Kini nafasmu kembali
Namun tak dihembuskan olehmu
Nafas itu, ada pada semangat, tekad dan kekuatan santri
Tertera pada semangat ajaran,
Terangkum pada tekad iman,
Dan dibungkus dengan kekuatan doa,

Wahai guru yang kepada Tuhan Esa kau kembali
Pada bagian doa itulah, kami hadir
binhadjid


Minggu, 19 Oktober 2014

Statiskah Gontor dalam Politik?

 “Gontor tidak berpolitik praktis”
“Politik tertinggi Gontor adalah pendidikan”

Kedua kalimat tersebut sudah tak asing lagi di telinga para siswa dan guru KMI Pondok Modern Darussalam Gontor. Pada beberapa perkumpulan bersama Pimpinan, khususnya menjelang pesta demokrasi, kalimat ini begitu ditekankan dan dicamkan di benak ‘orang dalam’ pondok.
Sepintas, dua kalimat tersebut nampak kontradiktif. Pada kalimat pertama, mengandung konteks larangan, pantangan ataupun sikap negatif terhadap sesuatu, yakni politik. Namun, prinsip bantahan ini tidak berhenti sampai di situ. Seperti halnya dalam kaidah ushul fiqh, yakni takhsis ‘am bil khos (pengkhususan hal umum dengan hal yang lebih khusus). Jika lafdzul khos dalam kalimat tersebut dihilangkan, maka bantahan ataupun pantangan tersebut berubah. Karena jika dikatakan Gontor tidak berpolitik, maka itu tidak benar. Karena Gontor tidak berpolitik praktis, bukan berarti ia tidak berpolitik. Karena yang dimaksudkan politik praktis adalah keinginan atau nafsu untuk mendapatkan kekuasaan di suatu tempat dengan berbagai macam cara, termasuk di dalamnya hal-hal yang tidak dibenarkan, dalam hal ini adalah jajaran pemerintahan, baik eksekutif maupun legislatif. Hal-hal yang berkenaan dengan uang, pemaksaan dan strategi licik merupakan hal lumrah dalam politik praktis. Memang tidak ada definisi normatif jika kita mencari maksud dari politik praktis. Namun politik praktis dapat dilihat dari fenomena riil yang terjadi pada dewasa ini. Begitu banyak orang yang menghalalkan berbagai cara guna mencapai kekuasaan, meski dengan uang, pencitraan, kebohongan publik hingga black campaign.
Perlu dicamkan, Gontor memang tidak pernah melibatkan dirinya dalam dunia politik secara langsung. Namun hal ini tidak berarti Gontor tidak mengambil sikap. Justru Gontor sudah menentukan sikap sejak ia didirikan. Sejak belum berdirinya partai-partai politik yang kini bertarung. Apa sikap Gontor? Yakni tidak memihak terhadap satu partai, satu calon legislatif, calon bupati, calon gubernur hingga calon presiden. Jangankan kerabat Gontor yang nyaleg atau nyapres, Gontor bahkan tidak menyatakan dukungan resmi atau keberpihakan terhadap caleg atau capres alumni Gontor. Ini bentuk ketegasan dari Gontor. Ketegasan yang begitu berani, prinsipil dan tak dapat ditawar-tawar.
Masuk pada kalimat kedua. Politik tertinggi Gontor adalah pendidikan. Untuk memahami kalimat ini, kita perlu mendefinisikan maksud dari kata ‘Politik’. Politik memiliki definisi yang sangat luas. Tiap pemimpin besar dunia memiliki definisi masing-masing. Namun semua sepakat, bahwa politik tidak terlepas dari negara, kekuasaan, dan pencapaian tujuan. Teori klasik Aristoteles mengatakan bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
Bicara tentang masyarakat, negara dan pencapaian tujuan, Gontor tidak menyangkal jika turut campur tangan terhadap hal ini. Gontor merupakan lembaga pendidikan milik umat, bertujuan untuk mencetak kader-kader yang akan menggerakkan dan menghidupkan nafas keislaman pada umat pula. Konteks ‘umat’ dalam hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah masyarakat. Mau tidak mau, masyarakat merupakan bagian dari negara dan objek pemerintahan. Inilah maksud konteks ‘Politik’ dalam kalimat yang selalu diucapkan oleh Pimpinan PMDG. Bahkan, ‘umat’ yang menjadi objek peradaban Gontor, tidak berhenti dalam suatu negara saja. Karena pemeluk agama Islam berada hampir di seluruh penjuru dunia, berarti calon pemimpin yang dicetak Gontor tak hanya berlevel nasional, namun berlevel internasional. Ini menunjukkan, bahwa politik Gontor tak hanya di dalam negeri saja, namun berskala internasional, turut berkecimpung dalam level politik dunia, karena turut bicara tentang umat Islam.
Mengapa pendidikan? Karena Gontor bergerak dalam bidang pendidikan. Maka pencapaian tujuan yang dimaksud oleh Gontor adalah dalam ranah pendidikan. Dengan pendidikan, Gontor dapat membina dan merekatkan umat. Pengaruh Gontor untuk memajukan masyarakat Indonesia dan dunia melalui pendidikan. Inilah maksud Gontor berpinsip bahwa politik tertinggi Gontor adalah pendidikan. Jadi pencapaian tujuan menurut Gontor untuk kebaikan bersama bukan melalui kekuasaan, tapi cukup melalui pendidikan. Karena umat atau masyarakat yang terdidik, jauh lebih berarti daripada seorang penguasa yang terdidik
Dalam satu kesempatan, K.H. Hasan Abdullah Sahal mengatakan bahwa jika suatu saat nanti Gontor melibatkan dirinya dalam politik praktis, memihak salah satu kontestan pemilu, berarti Gontor mengalami kemunduran jauh ke belakang. Hal ini sangat tepat, karena Gontor sudah menentukan sikap netral semenjak awal berdiri. binhadjid


Jumat, 17 Oktober 2014

Jangan Pernah Dewasa, Nak!

Kerinduan ini selalu berpadu,
pada hati yang satu,
melekat tanpa ragu
hingga daku menatap senyummu yang tersipu malu

Nak, tangismu tangisku. Senyummu, senyumku. Tawamu tawaku.
Maka, tersenyumlah selagi matahari tersenyum
Menangislah, jika itu satu-satunya jalan melepaskan dahaga isak
Dan tertawalah, karena tawa dapat membakar penat
Tanpamu, diri ini hampa. Tanpamu, hati ini gelisah.

Entah apa kata orang,
Cinta ini muncul tanpa disangka
Bukan cinta dalam memadu kasih
Namun cinta kasih sayang seorang guru pada muridnya
Tiap berpisah, hati meretak, hati melebur
Karena cinta tidak bertemu dengan cinta

Seakan, ku ingin melihatmu puluhan tahun kemudian tetap seperti ini
Di senyum lucu nan lugumu itu
Polos, bukan bak senyum serigala

Satu kata harus kuucapkan di malam ini,
Sebelum kau pergi di tidurmu

Jangan pernah dewasa, Nak! binhadjid