“Gontor tidak berpolitik praktis”
“Politik tertinggi Gontor
adalah pendidikan”
Kedua kalimat tersebut sudah tak
asing lagi di telinga para siswa dan guru KMI Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pada beberapa perkumpulan bersama Pimpinan, khususnya menjelang pesta
demokrasi, kalimat ini begitu ditekankan dan dicamkan di benak ‘orang dalam’
pondok.
Sepintas, dua kalimat tersebut
nampak kontradiktif. Pada kalimat pertama, mengandung konteks larangan,
pantangan ataupun sikap negatif terhadap sesuatu, yakni politik. Namun, prinsip
bantahan ini tidak berhenti sampai di situ. Seperti halnya dalam kaidah ushul fiqh, yakni takhsis ‘am bil khos (pengkhususan hal umum dengan hal yang lebih
khusus). Jika lafdzul khos dalam
kalimat tersebut dihilangkan, maka bantahan ataupun pantangan tersebut berubah.
Karena jika dikatakan Gontor tidak berpolitik, maka itu tidak benar. Karena
Gontor tidak berpolitik praktis, bukan berarti ia tidak berpolitik. Karena yang
dimaksudkan politik praktis adalah keinginan atau nafsu untuk mendapatkan
kekuasaan di suatu tempat dengan berbagai macam cara, termasuk di dalamnya
hal-hal yang tidak dibenarkan, dalam hal ini adalah jajaran pemerintahan, baik
eksekutif maupun legislatif. Hal-hal yang berkenaan dengan uang, pemaksaan dan
strategi licik merupakan hal lumrah dalam politik praktis. Memang tidak ada
definisi normatif jika kita mencari maksud dari politik praktis. Namun politik
praktis dapat dilihat dari fenomena riil yang terjadi pada dewasa ini. Begitu banyak
orang yang menghalalkan berbagai cara guna mencapai kekuasaan, meski dengan
uang, pencitraan, kebohongan publik hingga black
campaign.
Perlu dicamkan, Gontor memang
tidak pernah melibatkan dirinya dalam dunia politik secara langsung. Namun hal
ini tidak berarti Gontor tidak mengambil sikap. Justru Gontor sudah menentukan
sikap sejak ia didirikan. Sejak belum berdirinya partai-partai politik yang
kini bertarung. Apa sikap Gontor? Yakni tidak memihak terhadap satu partai,
satu calon legislatif, calon bupati, calon gubernur hingga calon presiden.
Jangankan kerabat Gontor yang nyaleg
atau nyapres, Gontor bahkan tidak
menyatakan dukungan resmi atau keberpihakan terhadap caleg atau capres alumni
Gontor. Ini bentuk ketegasan dari Gontor. Ketegasan yang begitu berani,
prinsipil dan tak dapat ditawar-tawar.
Masuk pada kalimat kedua. Politik
tertinggi Gontor adalah pendidikan. Untuk memahami kalimat ini, kita perlu
mendefinisikan maksud dari kata ‘Politik’. Politik memiliki definisi yang
sangat luas. Tiap pemimpin besar dunia memiliki definisi masing-masing. Namun
semua sepakat, bahwa politik tidak terlepas dari negara, kekuasaan, dan
pencapaian tujuan. Teori klasik Aristoteles mengatakan bahwa politik adalah
usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
Bicara tentang masyarakat, negara
dan pencapaian tujuan, Gontor tidak menyangkal jika turut campur tangan
terhadap hal ini. Gontor merupakan lembaga pendidikan milik umat, bertujuan
untuk mencetak kader-kader yang akan menggerakkan dan menghidupkan nafas
keislaman pada umat pula. Konteks ‘umat’ dalam hal ini tidak lain dan tidak
bukan adalah masyarakat. Mau tidak mau, masyarakat merupakan bagian dari negara
dan objek pemerintahan. Inilah maksud konteks ‘Politik’ dalam kalimat yang
selalu diucapkan oleh Pimpinan PMDG. Bahkan, ‘umat’ yang menjadi objek
peradaban Gontor, tidak berhenti dalam suatu negara saja. Karena pemeluk agama
Islam berada hampir di seluruh penjuru dunia, berarti calon pemimpin yang
dicetak Gontor tak hanya berlevel nasional, namun berlevel internasional. Ini
menunjukkan, bahwa politik Gontor tak hanya di dalam negeri saja, namun
berskala internasional, turut berkecimpung dalam level politik dunia, karena
turut bicara tentang umat Islam.
Mengapa pendidikan? Karena Gontor
bergerak dalam bidang pendidikan. Maka pencapaian tujuan yang dimaksud oleh
Gontor adalah dalam ranah pendidikan. Dengan pendidikan, Gontor dapat membina
dan merekatkan umat. Pengaruh Gontor untuk memajukan masyarakat Indonesia dan
dunia melalui pendidikan. Inilah maksud Gontor berpinsip bahwa politik
tertinggi Gontor adalah pendidikan. Jadi pencapaian tujuan menurut Gontor untuk
kebaikan bersama bukan melalui kekuasaan, tapi cukup melalui pendidikan. Karena
umat atau masyarakat yang terdidik, jauh lebih berarti daripada seorang
penguasa yang terdidik
Dalam satu kesempatan, K.H. Hasan
Abdullah Sahal mengatakan bahwa jika suatu saat nanti Gontor melibatkan dirinya
dalam politik praktis, memihak salah satu kontestan pemilu, berarti Gontor
mengalami kemunduran jauh ke belakang. Hal ini sangat tepat, karena Gontor
sudah menentukan sikap netral semenjak awal berdiri. binhadjid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar