Senin, 22 Desember 2014

Liverpool, 'Musamahah' dan Jeda Waktu Babak Pertama

Masih ingat dengan Miracle of Istanbul? Kisah perjuangan para punggawa Liverpool yang berhasil menciptakan keajaiban berkat usaha tiada henti Steven Gerrard dan kawan-kawan. Drama 120 menit yang menguras emosi bagi siapa saja yang menyaksikan.
Bagaimana tidak? 45 menit awal AC Milan dengan komando Andriy Sevchenko, berhasil memborbardir pertahanan Liverpool. Alhasil, tiga gol bersarang ke gawang Liverpool tanpa balas.
Trofi Liga Champions kali itu, seakan sudah siap untuk diterbangkan ke San Siro andai skor tersebut bertahan hingga usai.
Namun, malam itu, keajaiban terjadi Istanbul Stadium. Ratusan ribu penonton di lapangan dan jutaan pasang mata menjadi saksi akan kerja keras Steven Gerard dan kawan-kawan. Bahwa pertandingan malam itu belum usai. Dan tiupan peluit panjang, belum terdengar hingga detik itu.
Berkat strategi yang diramu dan perombakan formasi saat istirahat, si Merah berhasil membalikkan keadaan. Ini berkat kecerdasan sang pelatih, Rafael Benitez, yang berhasil membaca kelemahan AC Milan sepanjang pertandingan babak pertama.
Jeda babak pertama memang hanyalah 15 menit, namun waktu sesempit seringkali menjadi nafas, motivasi dan semangat baru. 15 Menit itu menjadi batu loncatan untuk meraih sesuatu yang hampir dianggap mustahil. Dan Liverpool, malam itu berhasil membuktikannya.
Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ujian Tulis Pertengahan Tahun maupun Akhir Tahun dilaksanakan selama 10 hari. Pada masa itu, para santri berjuang menghadapi soal-soal yang disodorkan di ruang ujian. Dan pada masa itu pula, semuanya kembali kepada kemampuan diri sendiri dan pertolongan Tuhan.
Sepuluh hari tersebut bak sebuah pertandingan sepakbola, di mana kerja keras, kemampuan diri, motivasi dan semangat, menjadi penentu hasil akhir pertandingan. Banyak dari para santri yang melewati 5 hari pertama dengan kegagalan. Mereka merasa tidak mampu banyak menjawab soal-soal yang tertera di lembaran soal. Mereka merasa gagal, seolah baru saja kebobolan banyak gol tanpa perlawanan berarti.
Namun, seperti halnya sebuah pertandingan sepakbola, Gontor memberikan jeda waktu bagi para santrinya. Jeda waktu itu bernama musamahah. Meski hanya satu hari, waktu sesempit itu dirasa sangat cukup untuk memperbaharui niat, menghela nafas, charging power, atur ulang strategi hingga perombakan formasi.
Jikalau para santri dapat memanfaatkan musamahah seperti halnya Rafael Benitez saat 15 menit rehat babak pertama dalam Final Liga Champion 2005 silam, niscaya hari-hari sisa ujian tulis, akan berlangsung seperti halnya Liverpool berhasil menyabet Trofi Liga Champions kali itu.
Rafael Benitez berhasil membaca kelemahan, menganalisa kekuatan, memperhitungkan kemampuan serta berani mengambil resiko kala itu. Maka, para santri juga harus bisa mengetahui kelemahan diri, menganalisa sebab, memperhitungkan sisa waktu dan jumlah materi ujian, serta yang terpenting adalah berani untuk mengambil resiko dengan mengubah teknik, formasi dan strategi menghadapi hari-hari ujian selanjutnya.

Dengan musamahah tersebut, niscaya para santri dapat ‘menghabisi’ lawan-lawannya pada ujian kemudian hari.binhadjid

1 komentar: