Masih ingat dengan Miracle of Istanbul? Kisah
perjuangan para punggawa Liverpool yang berhasil menciptakan keajaiban berkat
usaha tiada henti Steven Gerrard dan kawan-kawan. Drama 120 menit yang menguras
emosi bagi siapa saja yang menyaksikan.
Bagaimana tidak? 45 menit awal AC Milan dengan komando
Andriy Sevchenko, berhasil memborbardir pertahanan Liverpool. Alhasil, tiga gol
bersarang ke gawang Liverpool tanpa balas.
Trofi Liga Champions kali itu,
seakan sudah siap untuk diterbangkan ke San Siro andai skor tersebut bertahan
hingga usai.
Namun, malam itu, keajaiban terjadi Istanbul Stadium.
Ratusan ribu penonton di lapangan dan jutaan pasang mata menjadi saksi akan
kerja keras Steven Gerard dan kawan-kawan. Bahwa pertandingan malam itu belum
usai. Dan tiupan peluit panjang, belum terdengar hingga detik itu.
Berkat strategi yang diramu dan perombakan formasi saat
istirahat, si Merah berhasil membalikkan keadaan. Ini berkat kecerdasan sang
pelatih, Rafael Benitez, yang berhasil membaca kelemahan AC Milan sepanjang
pertandingan babak pertama.
Jeda babak pertama memang hanyalah 15 menit, namun waktu
sesempit seringkali menjadi nafas, motivasi dan semangat baru. 15 Menit itu
menjadi batu loncatan untuk meraih sesuatu yang hampir dianggap mustahil. Dan Liverpool,
malam itu berhasil membuktikannya.
Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ujian Tulis Pertengahan
Tahun maupun Akhir Tahun dilaksanakan selama 10 hari. Pada masa itu, para
santri berjuang menghadapi soal-soal yang disodorkan di ruang ujian. Dan pada
masa itu pula, semuanya kembali kepada kemampuan diri sendiri dan pertolongan
Tuhan.
Sepuluh hari tersebut bak sebuah pertandingan sepakbola, di
mana kerja keras, kemampuan diri, motivasi dan semangat, menjadi penentu hasil
akhir pertandingan. Banyak dari para santri yang melewati 5 hari pertama dengan
kegagalan. Mereka merasa tidak mampu banyak menjawab soal-soal yang tertera di
lembaran soal. Mereka merasa gagal, seolah baru saja kebobolan banyak gol tanpa
perlawanan berarti.
Namun, seperti halnya sebuah pertandingan sepakbola, Gontor
memberikan jeda waktu bagi para santrinya. Jeda waktu itu bernama musamahah.
Meski hanya satu hari, waktu sesempit itu dirasa sangat cukup untuk
memperbaharui niat, menghela nafas, charging power, atur ulang strategi
hingga perombakan formasi.
Jikalau para santri dapat memanfaatkan musamahah seperti
halnya Rafael Benitez saat 15 menit rehat babak pertama dalam Final Liga
Champion 2005 silam, niscaya hari-hari sisa ujian tulis, akan berlangsung
seperti halnya Liverpool berhasil menyabet Trofi Liga Champions kali itu.
Rafael Benitez berhasil membaca kelemahan, menganalisa
kekuatan, memperhitungkan kemampuan serta berani mengambil resiko kala itu. Maka,
para santri juga harus bisa mengetahui kelemahan diri, menganalisa sebab,
memperhitungkan sisa waktu dan jumlah materi ujian, serta yang terpenting
adalah berani untuk mengambil resiko dengan mengubah teknik, formasi dan
strategi menghadapi hari-hari ujian selanjutnya.
Dengan musamahah tersebut, niscaya para santri dapat ‘menghabisi’
lawan-lawannya pada ujian kemudian hari.binhadjid


Kok ada wiyu ustadz?
BalasHapus