Kamis, 16 Oktober 2014

Sandi Ajaib

Ada hal unik di dapur guru. Tiap guru memang mendapatkan jatah lauknya masing-masing. Namun ada saja beberapa guru yang ingin mendapatkan lebih. Triknya pun terbilang unik.
Berbeda dengan para santri yang harus membawa kartu khusus makan di dapur umum. Namun, di dapur guru tidak. Di sini tidak seperti halnya kebisaan santri, yang harus serba terikat oleh disiplin. Sekali lagi, di dapur guru, disiplin tidak terikat. Namun tak ada disiplin, tidak berarti tak ada aturan. Justru aturan di sini berjalan baik, tergolong ketat malah. Ini berkat kehadiran mbok dapur, sebut saja nama Mbok Inah (bukan nama asli). Karena Mbok Inah inilah yang menjadi ‘penjaga’ lauk pauk, juru kunci, kartu truf, atau apa sajalah yang pantas menggambarkan, bahwa Mbok Inah inilah yang jadi ‘pentolan’ di Dapur Guru.
Bukan rahasia umum jika Mbok Inah selalu menjadi ‘momok’ bagi setiap guru. Bukan karena galak. Bukan karena pelit. Namun karena satu hal, ‘lirikan’ tajam, pedas dan lugas itulah yang cukup menakutkan. Jangankan guru yang sudah 2 atau 3 tahun. Guru yang sudah sarjana pun, kegagahannya di depan santri akan luntur, jika sudah berhadapan dengan Mbok Inah.
Namun, bagiku, itu bukan satu momok. Memang dulu saat masih baru, jangankan melirik, mendekati saja aku sudah tak kuasa. Tiap mengambil lauk dari Mbok Inah, aku selalu buang muka, acuh, tak mau melirik. Takut dibalas dengan lirikan yang jauh lebih kejam.
Itu masa lalu, kini sudah berubah. Sejak seminggu yang lalu, bertemu dengan Mbok Inah adalah salah satu hal yang paling kutunggu. Kenapa? Karena tepat satu minggu pula aku, menjadi wali kelas dari cucu Mbok Inah di kelas 1C. Tiap bertemu Mbok Inah, cukup dengan sandi, “Mbok, Alhamdulillah cucunya sehat, semangat belajar dan penuh motivasi.” Walau yang kukatakan tak seratus persen benar, namun insya Allah 80 persen benar. Namanya juga manusia, hanya bisa berusaha dan menaksir.
Tiap sandi itu kuucapkan, bak brankas yang dapat dibuka dengan kode suara, Mbok Inah akan mengambil satu, dua atau bahkan tiga lauk, kemudian meletakkannya rapi di piringku. “Wuih, keren,” tukasku. Sambil berbalik badan, aku berterima kasih dan menghilang di keramaian guru yang mengantri.

Aku jadi pusat perhatian diantara semua guru yang makan. Bukan karena tampangku mirip artis. Tapi karena jumlah lauk di piringku berbeda dengan yang lain. “Mau? Jadi wali kelas 1C dulu dong,” batinku tiap ada guru yang penasaran kenapa aku mendapat banyak lauk. binhadjid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar