Ada hal unik di dapur guru. Tiap guru memang mendapatkan
jatah lauknya masing-masing. Namun ada saja beberapa guru yang ingin
mendapatkan lebih. Triknya pun terbilang unik.
Berbeda dengan para santri yang harus membawa kartu khusus
makan di dapur umum. Namun, di dapur guru tidak. Di sini tidak seperti halnya
kebisaan santri, yang harus serba terikat oleh disiplin. Sekali lagi, di dapur
guru, disiplin tidak terikat. Namun tak ada disiplin, tidak berarti tak ada
aturan. Justru aturan di sini berjalan baik, tergolong ketat malah. Ini berkat
kehadiran mbok dapur, sebut saja nama Mbok Inah (bukan nama asli). Karena Mbok
Inah inilah yang menjadi ‘penjaga’ lauk pauk, juru kunci, kartu truf, atau apa
sajalah yang pantas menggambarkan, bahwa Mbok Inah inilah yang jadi ‘pentolan’
di Dapur Guru.
Bukan rahasia umum jika Mbok Inah selalu menjadi ‘momok’
bagi setiap guru. Bukan karena galak. Bukan karena pelit. Namun karena satu
hal, ‘lirikan’ tajam, pedas dan lugas itulah yang cukup menakutkan. Jangankan
guru yang sudah 2 atau 3 tahun. Guru yang sudah sarjana pun, kegagahannya di
depan santri akan luntur, jika sudah berhadapan dengan Mbok Inah.
Namun, bagiku, itu bukan satu momok. Memang dulu saat masih
baru, jangankan melirik, mendekati saja aku sudah tak kuasa. Tiap mengambil
lauk dari Mbok Inah, aku selalu buang muka, acuh, tak mau melirik. Takut
dibalas dengan lirikan yang jauh lebih kejam.
Itu masa lalu, kini sudah berubah. Sejak seminggu yang lalu,
bertemu dengan Mbok Inah adalah salah satu hal yang paling kutunggu. Kenapa?
Karena tepat satu minggu pula aku, menjadi wali kelas dari cucu Mbok Inah di
kelas 1C. Tiap bertemu Mbok Inah, cukup dengan sandi, “Mbok, Alhamdulillah cucunya
sehat, semangat belajar dan penuh motivasi.” Walau yang kukatakan tak seratus
persen benar, namun insya Allah 80 persen benar. Namanya juga manusia,
hanya bisa berusaha dan menaksir.
Tiap sandi itu kuucapkan, bak brankas yang dapat dibuka
dengan kode suara, Mbok Inah akan mengambil satu, dua atau bahkan tiga lauk,
kemudian meletakkannya rapi di piringku. “Wuih, keren,” tukasku. Sambil
berbalik badan, aku berterima kasih dan menghilang di keramaian guru yang
mengantri.
Aku jadi pusat perhatian diantara semua guru yang makan.
Bukan karena tampangku mirip artis. Tapi karena jumlah lauk di piringku berbeda
dengan yang lain. “Mau? Jadi wali kelas 1C dulu dong,” batinku tiap ada guru
yang penasaran kenapa aku mendapat banyak lauk. binhadjid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar