Tiap orang pasti mempunyai ekspektasi yang diinginkan, entah disebut impian, angan, cita ataupun target. Yang jelas, hidupnya akan selalu diarahkan ke hal-hal tersebut. Sejak ia menekuni dunia akademis, hingga awal menuai karir.
Hal tersebut adalah hal fitrah, sudah barang tentu tiap manusia didesain sedemikian rupa oleh Sang Rabb. Yaitu hidup dengan keinginan dan impian. Tanpanya, manusia akan mati. Tanpanya, manusia akan seperti mayat hidup, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Namun, yang ditakutkan adalah saat manusia tersebut berorientasi penuh terhadap harta. Sekolah, bekerja, beristri, berkeluarga serta berketurunan, hanya demi meraih ekspektasi berbau harta. Sungguh menyedihkan. Buya Hamka pernah menggertak, "Jika hidup sekedar hidup, babi di hutan juga bisa hidup, kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bisa bekerja."
Lebih menyedihkan lagi, jika peserta didik yang mengenyam pendidikan di sekolah selama bertahun-tahun, li ajli mendapatkan ijazah. Secarik kertas pertanda kelulusan bertanda tangan kepala sekolah dan berstempel lembaga. Dengan secarik kertas itu, orang merasa sudah lulus, 'kenyang', 'puas' dan merasa 'cukup'. Terlalu tamak, sehingga 'keblinger'.
Namun, K.H. Imam Zarkasyi memiliki persepsi lain dengan makna ijazah. Menurut beliau, ijazah bukanlah secarik kertas itu, menurut beliau, ijazah itu adalah ilmu, amal, iman dan gerakan yang diakui oleh masyarakat. Hal ini tampak jelas, seperti yang dikutip dari sambutan tertulis K.H. Imam Zarkasyi pada Pertemuan IKPM Cabang Jakarta, 15 Juli 1984;
"Ilmu, pribadi dan kecakapan yang dimanfaatkan kepada masyarakat akan membuahkan jasa yang berharga dan dihargai. Itulah yang sebenar-benarnya arti "ijazah" yang dapat dipertanggunjawabkan di dunia dan di akhirat nanti. Karena nilai kebaikan manusia terletak pada jasa dan hasil usahanya. Rasulullah bersabda:
خير الناس
أنفعهم للناس
Dan
tidak lupa, semua itu semata-mata hanyalah untuk Allah, bukan untuk mengejar
status sosial." binhadjid
+of+011.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar