Selain
Pimpinan Pondok dan Direktur KMI, jika para santri ditanya tentang siapa guru
senior yang paling mereka kenal, hampir setiap santri di Pondok Modern
Darussalam Gontor akan menjawab, "Ustadz Tauhid." Hal ini bukan tanpa
sebab, hampir pada setiap aktivitas pondok, Ustadz Tauhid ikut turun tangan
menegakkan disiplin pondok, baik bagi santri maupun guru.
Meski
tubuhnya kurus dan pembawaannya sederhana, namun Ustadz Tauhid memiliki
ketegasan, kejujuran serta kedisiplinan yang kuat. Sifat-sifat yang dahulu
ditanamkan oleh sang ayah, K.H. Ahmad Sahal, pendiri Pondok Gontor, selalu
beliau pelihara hingga akhir hayat.
Hampir di
setiap kegiatan santri maupun guru, 'Pak Tauhid', sapaan akrab beliau, tanpa
merasa gengsi karena usia yang sudah terlampau tua, selalu turun dan ikut
menegakkan disiplin santri ataupun guru. Dengan teriakan khasnya, para santri
pasti akan segera mengikuti disiplin yang ada tanpa ragu. Karena, usai
teriakan, biasanya beliau tak segan-segan 'menyentuh' beberapa santri yang
sulit diatur. Ada
hal-hal yang menurut beliau tak pantas, tanpa pandang bulu, Ustadz Tauhid
langsung menegurnya, kapanpun dan di manapun. Meski, terkadang banyak yang tak
suka dengan ketegasan dan disiplin beliau.
Bahkan dalam
satu kesempatan, ada seorang kyai sedang menyampaikan pengajian di daerah
Lasem, Rembang. Saat itu, Sang Kyai kurang tepat menuturkan lafadz dalam sebuah
hadits, Ustadz Tauhidpun tanpa ragu langsung meng-islah di tempat.
Hingga Sang Kyaipun bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang tersebut, begitu
berani membenarkan penuturan orang yang dianggap 'suci' di kalangan masyarakat
pada waktu itu.
Dari sepuluh
putra pendiri PMDG, K.H. Ahmad Sahal, selain K.H. Hasan Abdullah Sahal
(Pimpinan PMDG), Pak Tauhid merupakan sosok yang sangat istiqomah dalam menjaga
pesan-pesan orang tuanya. Kalau boleh meminjam istilah Ustadz H. Imam Shobari,
beliau ini sangat ta'dzim terhadap kedua orang tuanya. Salah satu
buktinya, adalah saat Ustadz Tauhid menyelesaikan studi di KMI pada tahun 1974.
Kala itu, K.H. Ahmad Sahal meminta agar Ustadz Tauhid menetap di pondok untuk
mengajar, tanpa perlu kuliah terlebih dahulu di tempat yang diinginkan. Tanpa
banyak pertimbangan, beliau manut terhadap apa yang dikatakan oleh K.H.
Ahmad Sahal.
Selama
puluhan tahun mengajar di KMI, Pak Tauhid mengampu materi Hadits untuk siswa
kelas 3 KMI. Jadi jangan kaget, bila beliau sudah nelotok jika ditanya
tentang Hadits, terutama Hadits dalam Kitab Bulughul Maram.
Materi
Hadits ini jugalah yang mengantarkan beliau meraih gelar sarjana dari Sekolah
Tinggi Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan
Agama Islam. Sebab, skripsi yang ditulis oleh Ustadz Tauhid juga mengenai
Hadits. Jadi tidak salah, bila 'seakan' yang diuji lebih pandai dan menguasai
materi dari pada yang menguji.
Selama
mengajar di KMI, Ustadz Tauhid memang dikenal sebagai sosok yang sangat tegas
di kalangan para santri. Tegas bukan berarti keras. Karena memang pendidikan di
Gontor seperti itu. Mendidik para santri untuk memiliki jiwa militan. Teriakan
dan gertakan hingga 'sentuhan' menjadi makanan sehari-hari para siswa yang
diajar oleh beliau. Namun, pada beberapa reuni alumni Gontor, banyak dari para
mantan murid beliau mengatakan, "Kalau dulu saya tidak dimarahi, diteriaki
dan 'disentuh' oleh Ustadz Tauhid, mungkin saya sekarang tidak bisa menjadi
sukses seperti sekarang ini." Ini pertanda bahwa pendidikan mental dan
karakter yang ditanamkan oleh begitu melekat dan membekas di benak para santri.
Meski
terkenal 'galak', sebenarnya Ustadz Tauhid merupakan pribadi humoris. Hal ini
terlihat saat beliau bertemu dengan para guru ataupun para alumni di luar
kegiatan pondok. Terkadang beliau pandai membuat lelucon sambil nostalgia
dengan para muridnya terdahulu. Meski sudah tua, beliau memiliki memori yang
sangat kuat. Hingga sebelum pergi, beliau masih dapat menghafal para mantan
muridnya, ataupun menghafal hadits-hadit maupun ayat-ayat tafsir yang dulu
pernah dihafal.
Riwayat
penyakit Pak Tauhid berawal pada Ramadhan 2 tahun yang lalu. Ustadz Tauhid
mengalami kecelakaan yang mengharuskan beliau mendapatkan perawatan intensif di
rumah sakit selama beberapa hari. Namun Allah masih memberi kesempatan pada
beliau untuk aktif mengajar hingga pada Hari Raya Qurban lalu.
Tepat pada
15 Oktober 2013, usai Shalat Subuh, beliau beberapa kali bersin yang
mengakibatkan pandangan kabur dan tak sadarkan diri. Setelah sempat kejang dan
tensi darah naik hingga 230 mmHg, beliau dilarikan ke UGD Rumah Sakit Aisyiah
Ponorogo. Pada saat itu, beberapa kali keadaan beliau tidak stabil, baik dari
kesadarannya maupun tensi darahnya. Hingga pada Rabu, 16 Oktober 2013, di
hadapan K.H. Hasan Abdullah, Ibu Siti Aminah Sahal dan Pak Imam Budiono Sahal,
beliau menghembuskan nafas terakhir untuk selama-lamanya.
Memang kini
beliau telah tiada, namun penanaman nilai-nilai kejujuran, disiplin serta sikap
tegas untuk selalu beristiqomah terhadap pesan orang tua, akan selalu
diteladani oleh para santri yang pernah, ataupun belum pernah merasakan
pendidikan dari Ustadz Ahmad Tauhid Sahal. Allahummaghfirlahu, warhamhu.

Dia adalah ayah kandungku
BalasHapus