Minggu, 30 Maret 2014

Obituari Ustadz Ahmad Tauhid Sahal: "Kepergian Sosok Militan itu Sungguh Menggertak Kami"



Selain Pimpinan Pondok dan Direktur KMI, jika para santri ditanya tentang siapa guru senior yang paling mereka kenal, hampir setiap santri di Pondok Modern Darussalam Gontor akan menjawab, "Ustadz Tauhid." Hal ini bukan tanpa sebab, hampir pada setiap aktivitas pondok, Ustadz Tauhid ikut turun tangan menegakkan disiplin pondok, baik bagi santri maupun guru.
Meski tubuhnya kurus dan pembawaannya sederhana, namun Ustadz Tauhid memiliki ketegasan, kejujuran serta kedisiplinan yang kuat. Sifat-sifat yang dahulu ditanamkan oleh sang ayah, K.H. Ahmad Sahal, pendiri Pondok Gontor, selalu beliau pelihara hingga akhir hayat.
Hampir di setiap kegiatan santri maupun guru, 'Pak Tauhid', sapaan akrab beliau, tanpa merasa gengsi karena usia yang sudah terlampau tua, selalu turun dan ikut menegakkan disiplin santri ataupun guru. Dengan teriakan khasnya, para santri pasti akan segera mengikuti disiplin yang ada tanpa ragu. Karena, usai teriakan, biasanya beliau tak segan-segan 'menyentuh' beberapa santri yang sulit diatur. Ada hal-hal yang menurut beliau tak pantas, tanpa pandang bulu, Ustadz Tauhid langsung menegurnya, kapanpun dan di manapun. Meski, terkadang banyak yang tak suka dengan ketegasan dan disiplin beliau.
Bahkan dalam satu kesempatan, ada seorang kyai sedang menyampaikan pengajian di daerah Lasem, Rembang. Saat itu, Sang Kyai kurang tepat menuturkan lafadz dalam sebuah hadits, Ustadz Tauhidpun tanpa ragu langsung meng-islah di tempat. Hingga Sang Kyaipun bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang tersebut, begitu berani membenarkan penuturan orang yang dianggap 'suci' di kalangan masyarakat pada waktu itu.
Dari sepuluh putra pendiri PMDG, K.H. Ahmad Sahal, selain K.H. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan PMDG), Pak Tauhid merupakan sosok yang sangat istiqomah dalam menjaga pesan-pesan orang tuanya. Kalau boleh meminjam istilah Ustadz H. Imam Shobari, beliau ini sangat ta'dzim terhadap kedua orang tuanya. Salah satu buktinya, adalah saat Ustadz Tauhid menyelesaikan studi di KMI pada tahun 1974. Kala itu, K.H. Ahmad Sahal meminta agar Ustadz Tauhid menetap di pondok untuk mengajar, tanpa perlu kuliah terlebih dahulu di tempat yang diinginkan. Tanpa banyak pertimbangan, beliau manut terhadap apa yang dikatakan oleh K.H. Ahmad Sahal.
Selama puluhan tahun mengajar di KMI, Pak Tauhid mengampu materi Hadits untuk siswa kelas 3 KMI. Jadi jangan kaget, bila beliau sudah nelotok jika ditanya tentang Hadits, terutama Hadits dalam Kitab Bulughul Maram.
Materi Hadits ini jugalah yang mengantarkan beliau meraih gelar sarjana dari Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam. Sebab, skripsi yang ditulis oleh Ustadz Tauhid juga mengenai Hadits. Jadi tidak salah, bila 'seakan' yang diuji lebih pandai dan menguasai materi dari pada yang menguji.
Selama mengajar di KMI, Ustadz Tauhid memang dikenal sebagai sosok yang sangat tegas di kalangan para santri. Tegas bukan berarti keras. Karena memang pendidikan di Gontor seperti itu. Mendidik para santri untuk memiliki jiwa militan. Teriakan dan gertakan hingga 'sentuhan' menjadi makanan sehari-hari para siswa yang diajar oleh beliau. Namun, pada beberapa reuni alumni Gontor, banyak dari para mantan murid beliau mengatakan, "Kalau dulu saya tidak dimarahi, diteriaki dan 'disentuh' oleh Ustadz Tauhid, mungkin saya sekarang tidak bisa menjadi sukses seperti sekarang ini." Ini pertanda bahwa pendidikan mental dan karakter yang ditanamkan oleh begitu melekat dan membekas di benak para santri.
Meski terkenal 'galak', sebenarnya Ustadz Tauhid merupakan pribadi humoris. Hal ini terlihat saat beliau bertemu dengan para guru ataupun para alumni di luar kegiatan pondok. Terkadang beliau pandai membuat lelucon sambil nostalgia dengan para muridnya terdahulu. Meski sudah tua, beliau memiliki memori yang sangat kuat. Hingga sebelum pergi, beliau masih dapat menghafal para mantan muridnya, ataupun menghafal hadits-hadit maupun ayat-ayat tafsir yang dulu pernah dihafal.
Riwayat penyakit Pak Tauhid berawal pada Ramadhan 2 tahun yang lalu. Ustadz Tauhid mengalami kecelakaan yang mengharuskan beliau mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit selama beberapa hari. Namun Allah masih memberi kesempatan pada beliau untuk aktif mengajar hingga pada Hari Raya Qurban lalu.
Tepat pada 15 Oktober 2013, usai Shalat Subuh, beliau beberapa kali bersin yang mengakibatkan pandangan kabur dan tak sadarkan diri. Setelah sempat kejang dan tensi darah naik hingga 230 mmHg, beliau dilarikan ke UGD Rumah Sakit Aisyiah Ponorogo. Pada saat itu, beberapa kali keadaan beliau tidak stabil, baik dari kesadarannya maupun tensi darahnya. Hingga pada Rabu, 16 Oktober 2013, di hadapan K.H. Hasan Abdullah, Ibu Siti Aminah Sahal dan Pak Imam Budiono Sahal, beliau menghembuskan nafas terakhir untuk selama-lamanya.
Memang kini beliau telah tiada, namun penanaman nilai-nilai kejujuran, disiplin serta sikap tegas untuk selalu beristiqomah terhadap pesan orang tua, akan selalu diteladani oleh para santri yang pernah, ataupun belum pernah merasakan pendidikan dari Ustadz Ahmad Tauhid Sahal. Allahummaghfirlahu, warhamhu.

1 komentar: