Jumat, 28 Februari 2014

Paradigma pada Moral dan Harta



Beberapa hari yang lalu, saat sedang di perjalanan, nampak seorang pengemis tua di pinggir jalan. Raut wajahnya menunjukkan betapa sulitnya mencari sesuap nasi guna mempertahankan hidup. Di bahu nampak sebuah tas. Saat duduk, ia membuka resleting tasnya, kemudian memungut beberapa lembar rupiah dari dalam tas. Sesaat, saya pikir, pasti ia merupakan seorang pengemis biasa. Namun, usai melihat caranya menghitung uang, dan jumlah yang ada di tasnya, saya yakin itu hasil jerih payah alias hasil kerja kerasnya.

Hal ini mengingatkan tentang ekspektasi yang diberikan dalam mahfudzat siswa kelas II KMI, tentang "Fandzur ila man fauqohu adaban, wandzur ila man dunahu maalan." Tentang adab, lihatlah orang yang lebih daripadamu, namun tentang harta, lihatlah orang yang lebih membutuhkan daripadamu.

Memang pepatah ini nampak sederhana, namun memiliki makna mendalam. Bagaimana tidak? Banyak orang pada dewasa ini selalu merasa 'panas' jika melihat orang lain mendapat harta lebih. Merasa iri, dengki dan selalu ingin lebih. Hal ini memang wajar, karena manusia terlahir dengan sifat kompetitif. Siapa kuat dia menang, siapa lemah dia kalah.

Oleh karena itu, jika kita menelaah pepatah ini lebih dalam, kita akan menemukan sesuatu. Urusan adab, kita dianjurkan melihat kepada yang lebih tinggi. Agar kita selalu merasa iri, merasa dengki, merasa ingin lebih. Sifat manusia ini, jika diaplikasikan dalam hal ini, menjadi 'positive power'. Justru menjadi sebuah kekuatan yang positif bagi manusia. Oleh karena itu, sifat ini harus dimunculkan, diingat dan diamalkan.

Namun, urusan duniawi, harta ataupun tahta. Berpandai-pandailah untuk melihat kepada kaum papa. Lihatlah ke bawah. Lihatlah kaum fakir yang tak punya apa-apa. Dengan melihat kepada mereka, rasa iba dan kesyukuran akan muncul dalam hati kita. Betapa keadaan yang kita alami saat ini, masih jauh lebih baik dari mereka yang membutuhkan. Uang 10 ribu yang kita rasa sangat kurang sekali jajan, akan dirasa sangat disyukuri jika tahu bahwa anak-anak mereka hanya membawa uang 2 ribu sekali jajan. binhadjid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar