Beberapa hari yang lalu, saat sedang di perjalanan, nampak seorang
pengemis tua di pinggir jalan. Raut wajahnya menunjukkan betapa sulitnya
mencari sesuap nasi guna mempertahankan hidup. Di bahu nampak sebuah tas. Saat
duduk, ia membuka resleting tasnya, kemudian memungut beberapa lembar rupiah
dari dalam tas. Sesaat, saya pikir, pasti ia merupakan seorang pengemis biasa.
Namun, usai melihat caranya menghitung uang, dan jumlah yang ada di tasnya,
saya yakin itu hasil jerih payah alias hasil kerja kerasnya.
Hal ini mengingatkan tentang ekspektasi yang diberikan dalam mahfudzat
siswa kelas II KMI, tentang "Fandzur ila man fauqohu adaban, wandzur
ila man dunahu maalan." Tentang adab, lihatlah orang yang lebih
daripadamu, namun tentang harta, lihatlah orang yang lebih membutuhkan
daripadamu.
Memang pepatah ini nampak sederhana, namun memiliki makna mendalam.
Bagaimana tidak? Banyak orang pada dewasa ini selalu merasa 'panas' jika
melihat orang lain mendapat harta lebih. Merasa iri, dengki dan selalu ingin
lebih. Hal ini memang wajar, karena manusia terlahir dengan sifat kompetitif.
Siapa kuat dia menang, siapa lemah dia kalah.
Oleh karena itu, jika kita menelaah pepatah ini lebih dalam, kita akan
menemukan sesuatu. Urusan adab, kita dianjurkan melihat kepada yang lebih
tinggi. Agar kita selalu merasa iri, merasa dengki, merasa ingin lebih. Sifat
manusia ini, jika diaplikasikan dalam hal ini, menjadi 'positive power'. Justru
menjadi sebuah kekuatan yang positif bagi manusia. Oleh karena itu, sifat ini
harus dimunculkan, diingat dan diamalkan.
Namun, urusan duniawi, harta ataupun tahta. Berpandai-pandailah untuk
melihat kepada kaum papa. Lihatlah ke bawah. Lihatlah kaum fakir yang tak punya
apa-apa. Dengan melihat kepada mereka, rasa iba dan kesyukuran akan muncul
dalam hati kita. Betapa keadaan yang kita alami saat ini, masih jauh lebih baik
dari mereka yang membutuhkan. Uang 10 ribu yang kita rasa sangat kurang sekali
jajan, akan dirasa sangat disyukuri jika tahu bahwa anak-anak mereka hanya
membawa uang 2 ribu sekali jajan. binhadjid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar