MUKADDIMAH
Sebagai
generasi penerus Islam di masa depan, sudah selayaknya kita membekali diri guna
persiapan menghadapi tantangan serta perang pemikiran yang saat ini gencar dilancarkan
oleh kaum orientalis. Tak hanya masalah agama, kaum orientalis yang mengusung
prinsip liberalisme dan tentunya
orientalisme sudah menyusup ke ranah adat dan budaya dari
jenis makanan, cara berpakaian hingga hiburan yang tersaji di depan kita setiap
harinya.
Sudah seharusnya bekal yang kita siapkan tak hanya ilmu
agama yang diajarkan pak ustadz di mushola saat kita kecil. Tanpa menyingkirkan hal tersebut, kita harus mempelajari lebih
mendalam mengenai ushuluddin, aqidah filsafat serta tentang ilmu ketuhanan.
Selain itu, ditambah dengan wawasan kita mengenai kristologi, maksud dan tujuan
mereka, serta kaum orientalis, liberalis, pluralis, ateis dan lain sebagainya.
Berbicara
tentang pentingnya ilmu, Allah SWT berfirman dalam salah satu ayatNya, yang
artinya:
“Allah
akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan yang memiliki ilmu
pengetahuan beberapa derajat”[1]
Menuntut
ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Tak pandang status dan keadaan sosial,
mencari kebenaran merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim yang dianugerahi
akal. Meskipun terkadang, kita tak bisa mengedepankan
akal saja. Antara akal fikiran dengan hati haruslah selalu menyatu.
Sesuai dengan anjuran pemerintah, minimal kita mengikuti program
wajib belajar 9 tahun. Namun, banyak permasalahan ditemukan di sana-sini
semenjak pemerintah mencanangkan program tersebut. Dari masalah biaya, hingga
masalah psikologis anak. Dalam makalah ini, kita akan membahas tentang masalah
psikologis yang justru memberikan pengaruh terbesar pada kesuksesan maupun
kegagalan.
PEMBAHASAN
Ranchodas yang diperankan oleh Aamir Khan dalam
film “three idiot” mengatakan,
“Apapun yang kau senangi, jadikanlah itu duniamu”[2]
Perkataan yang singkat namun padat ini membuat sedikit
bernafas lega dalam jiwa kita, karena hakikat seorang manusia, mempunyai
sesuatu hal yang begitu dia senangi. Apalagi, bagaimana tidak bahagia apabila
seseorang harus bekerja mencari penghidupan di ladang tempat kesukaan dia,
alias seusai dengan kegemarannya.
Otak manusia belajar dengan sangat cepat, karena itu spanatensi
dan konsentrasi pun menjadi sangat terbatas. Karena itu pula, semakin singkat
dan praktis inspirasi yang bisa diambil saat dibutuhkan, semakin cepat pula
kreasi dan loncatan emosi positif, perasaan bahagia, motivasi, energi, dan
tindakan bermanfaat[3]. Sehingga, tiap dari diri
manusia mempunyai semacam insting untuk selalu bergerak mengejar apa yang ia
inginkan, inilah yang membedakan kita dengan mahluk lain.
Seorang pemain sepakbola akan begitu menikmati hidupnya
sebagai pesepakbola, karena dia sangat mencintainya. Sukses maupun gagal
menjadi seorang pesepakbola, dia akan tetap menerima dengan lapang dada, karena
dia sendirilah yang memilih hal tersebut sebagai jalan hidupnya.
Konsep ‘happy’ ini ternyata membawa pengaruh yang cukup
signifikan. Tak hanya dalam hal pekerjaan, hal ini dapat dibawa dalam ranah
pembelajaran. Seorang anak akan begitu mudah menguasai suatu pelajaran ketika
dia menyukai pelajaran itu, tak hanya suka, tapi hingga dalam batasan cinta.
Saat kita mencintai seseorang, kita akan melakukan segala hal agar bisa
membahagiakan seseorang. Tak ada kata rugi dalam diri kita untuk melakukan
apapun demi kebahagiaan orang tersebut.
Apabila kita praktekkan dalam belajar, seorang anak akan
begitu menikmati proses belajar, diawali dari membaca, memahami hingga
menghafalkan, insting anak tersebut justru semakin tertantang ketika akan
memecahkan suatu persoalan. Hati anak begitu senang ketika membaca, layaknya
dia sedang membaca komik avatar kesukaannya. Saat membaca avatar, tanpa dipaksa,
anak akan hafal dengan sendirinya siapa saja tokohnya, bagaimana kejadian dan
tragedinya, senjata yang digunakan hingga rentetan peristiwa yang terjadi.
Mirip dengan pelajaran sejarah, dia akan menghafal berbagai materi di dalamnya
saat dia mengenang perjuangan para tokoh di zaman kemerdekaan.
Jika anak suka terhadap pelajaran
sampai pada tingkatan di atas, tentunya guru tak akan kesulitan menyampaikan
materi pelajaran. Anak akan tampak bersemangat menerima pelajaran yang akan
disampaikan. Materi pelajaran dianggap bak sinetron serial yang ceritanya
bersambung dari satu episode ke episode yang lain. Saat bel berbunyi, anak akan
terucap pada anak, “Ahh....., kok bel nya cepet banget...!!”
Meski demikian, setiap anak di dunia
diciptakan dengan karakter dan sifat yang berbeda, seperti halnya kita. Setiap
anak bisa mengalami periode sulit di sekolahnya tanpa mengungkapkannya ke
siapapun. Kuncinya, adalah memberikan dorongan, punya gambaran yang jelas
tentang pendidikan anak dan ungkapkan harapan-harapan positif serta penghargaan
yang tepat. Ingatlah, setiap anak itu unik dan perlu strategi berbeda.[4]
Namun, setidaknya kita perlu kembali
menela’ah hakikat tujuan dari belajar. Di saat kita menyenangi akan suatu
dunia, apakah itu yang terbaik untuk kita. Sebenarnya, siapakah diri kita ini?
Dan untuk apa kita dilahirkan di dunia ini?[5]
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita, untuk mengetahui tujuan
hidup kita, karena dengan menentukannya, cita-cita kita akan lebih fokus.
PENUTUP
Sudah saatnya, setiap dari diri kita bertanggungjawab
atas masa depannya masing-masing. Bagaikan hari kiamat, di mana setiap orang
tidak dapat saling menolong, dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri, begitu
pulalah hidup kita. Setiap dari kita diciptakan dengan hasrat yang hebat dalam
diri untuk mencapai hal tertinggi dalam hidup kita. Namun perlu diimbangi pula
dengan kejernihan hati agar kepandaian tak salah digunakan.
Guna mencapai tujuan hidup, kita harus menentukan ke arah
mana kita melangkah. Untuk menentukan ke mana arah melangkah harus didasari
dengan keyakinan yang kuat. Serta menentukan dunia yang begitu kita sukai
hingga menjadi hasrat. Dan berkecimpung langsung pada bidang yang kita cintai,
sehingga, bekerja adalah hiburan, kita begitu enjoy menjalani apa yang
seharusnya menjadi beban kita.
REFERENSI
Al-Qur’anul Karim.
Ghicara, Jenny, Aku Bisa Menjadi yang Kumau, Media
Elex Komputindo, Jakarta.
Hirani, Rajkumar, Three Idiot Movie (Rancho’s dialog),
2009.
Nikolay, Hingdranata, Coffe for the Mind, Gramedia
Pustaka Utama.
Olivia, Femi, Mendampingi Anak Belajar, Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar