Rabu, 27 Juni 2012

ESENSI KONSEP ‘HAPPY’ DALAM MOTIVASI BELAJAR (CONTOH MAKALAH)




MUKADDIMAH
Sebagai generasi penerus Islam di masa depan, sudah selayaknya kita membekali diri guna persiapan menghadapi tantangan serta perang pemikiran yang saat ini gencar dilancarkan oleh kaum orientalis. Tak hanya masalah agama, kaum orientalis yang mengusung prinsip liberalisme dan tentunya orientalisme sudah menyusup ke ranah adat dan budaya dari jenis makanan, cara berpakaian hingga hiburan yang tersaji di depan kita setiap harinya.
Sudah seharusnya bekal yang kita siapkan tak hanya ilmu agama yang diajarkan pak ustadz di mushola saat kita kecil. Tanpa menyingkirkan hal tersebut, kita harus mempelajari lebih mendalam mengenai ushuluddin, aqidah filsafat serta tentang ilmu ketuhanan. Selain itu, ditambah dengan wawasan kita mengenai kristologi, maksud dan tujuan mereka, serta kaum orientalis, liberalis, pluralis, ateis dan lain sebagainya.
Berbicara tentang pentingnya ilmu, Allah SWT berfirman dalam salah satu ayatNya, yang artinya:
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan yang memiliki ilmu pengetahuan beberapa derajat”[1]
Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Tak pandang status dan keadaan sosial, mencari kebenaran merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim yang dianugerahi akal. Meskipun terkadang, kita tak bisa mengedepankan akal saja. Antara akal fikiran dengan hati haruslah selalu menyatu.
            Sesuai dengan anjuran pemerintah, minimal kita mengikuti program wajib belajar 9 tahun. Namun, banyak permasalahan ditemukan di sana-sini semenjak pemerintah mencanangkan program tersebut. Dari masalah biaya, hingga masalah psikologis anak. Dalam makalah ini, kita akan membahas tentang masalah psikologis yang justru memberikan pengaruh terbesar pada kesuksesan maupun kegagalan.
PEMBAHASAN
            Ranchodas yang diperankan oleh Aamir Khan dalam film “three idiot” mengatakan,
“Apapun yang kau senangi, jadikanlah itu duniamu”[2]
Perkataan yang singkat namun padat ini membuat sedikit bernafas lega dalam jiwa kita, karena hakikat seorang manusia, mempunyai sesuatu hal yang begitu dia senangi. Apalagi, bagaimana tidak bahagia apabila seseorang harus bekerja mencari penghidupan di ladang tempat kesukaan dia, alias seusai dengan kegemarannya.
Otak manusia belajar dengan sangat cepat, karena itu spanatensi dan konsentrasi pun menjadi sangat terbatas. Karena itu pula, semakin singkat dan praktis inspirasi yang bisa diambil saat dibutuhkan, semakin cepat pula kreasi dan loncatan emosi positif, perasaan bahagia, motivasi, energi, dan tindakan bermanfaat[3]. Sehingga, tiap dari diri manusia mempunyai semacam insting untuk selalu bergerak mengejar apa yang ia inginkan, inilah yang membedakan kita dengan mahluk lain.
Seorang pemain sepakbola akan begitu menikmati hidupnya sebagai pesepakbola, karena dia sangat mencintainya. Sukses maupun gagal menjadi seorang pesepakbola, dia akan tetap menerima dengan lapang dada, karena dia sendirilah yang memilih hal tersebut sebagai jalan hidupnya.
Konsep ‘happy’ ini ternyata membawa pengaruh yang cukup signifikan. Tak hanya dalam hal pekerjaan, hal ini dapat dibawa dalam ranah pembelajaran. Seorang anak akan begitu mudah menguasai suatu pelajaran ketika dia menyukai pelajaran itu, tak hanya suka, tapi hingga dalam batasan cinta. Saat kita mencintai seseorang, kita akan melakukan segala hal agar bisa membahagiakan seseorang. Tak ada kata rugi dalam diri kita untuk melakukan apapun demi kebahagiaan orang tersebut.
Apabila kita praktekkan dalam belajar, seorang anak akan begitu menikmati proses belajar, diawali dari membaca, memahami hingga menghafalkan, insting anak tersebut justru semakin tertantang ketika akan memecahkan suatu persoalan. Hati anak begitu senang ketika membaca, layaknya dia sedang membaca komik avatar kesukaannya. Saat membaca avatar, tanpa dipaksa, anak akan hafal dengan sendirinya siapa saja tokohnya, bagaimana kejadian dan tragedinya, senjata yang digunakan hingga rentetan peristiwa yang terjadi. Mirip dengan pelajaran sejarah, dia akan menghafal berbagai materi di dalamnya saat dia mengenang perjuangan para tokoh di zaman kemerdekaan.
            Jika anak suka terhadap pelajaran sampai pada tingkatan di atas, tentunya guru tak akan kesulitan menyampaikan materi pelajaran. Anak akan tampak bersemangat menerima pelajaran yang akan disampaikan. Materi pelajaran dianggap bak sinetron serial yang ceritanya bersambung dari satu episode ke episode yang lain. Saat bel berbunyi, anak akan terucap pada anak, “Ahh....., kok bel nya cepet banget...!!”
            Meski demikian, setiap anak di dunia diciptakan dengan karakter dan sifat yang berbeda, seperti halnya kita. Setiap anak bisa mengalami periode sulit di sekolahnya tanpa mengungkapkannya ke siapapun. Kuncinya, adalah memberikan dorongan, punya gambaran yang jelas tentang pendidikan anak dan ungkapkan harapan-harapan positif serta penghargaan yang tepat. Ingatlah, setiap anak itu unik dan perlu strategi berbeda.[4]
            Namun, setidaknya kita perlu kembali menela’ah hakikat tujuan dari belajar. Di saat kita menyenangi akan suatu dunia, apakah itu yang terbaik untuk kita. Sebenarnya, siapakah diri kita ini? Dan untuk apa kita dilahirkan di dunia ini?[5] Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita, untuk mengetahui tujuan hidup kita, karena dengan menentukannya, cita-cita kita akan lebih fokus. 
PENUTUP
Sudah saatnya, setiap dari diri kita bertanggungjawab atas masa depannya masing-masing. Bagaikan hari kiamat, di mana setiap orang tidak dapat saling menolong, dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri, begitu pulalah hidup kita. Setiap dari kita diciptakan dengan hasrat yang hebat dalam diri untuk mencapai hal tertinggi dalam hidup kita. Namun perlu diimbangi pula dengan kejernihan hati agar kepandaian tak salah digunakan.
Guna mencapai tujuan hidup, kita harus menentukan ke arah mana kita melangkah. Untuk menentukan ke mana arah melangkah harus didasari dengan keyakinan yang kuat. Serta menentukan dunia yang begitu kita sukai hingga menjadi hasrat. Dan berkecimpung langsung pada bidang yang kita cintai, sehingga, bekerja adalah hiburan, kita begitu enjoy menjalani apa yang seharusnya menjadi beban kita.


REFERENSI
Al-Qur’anul Karim.
Ghicara, Jenny, Aku Bisa Menjadi yang Kumau, Media Elex Komputindo, Jakarta.
Hirani, Rajkumar, Three Idiot Movie (Rancho’s dialog), 2009.
Nikolay, Hingdranata, Coffe for the Mind, Gramedia Pustaka Utama.
Olivia, Femi, Mendampingi Anak Belajar, Elex Media Komputindo, Jakarta.



[1] Al-Qur’anul Karim, Al-Mujadilah: 11
[2] Rajkumar Hirani, Three Idiot Movie (Rancho’s dialog), 2009
[3] Hingdranata Nikolay, Coffe for the Mind, Gramedia Pustaka Utama
[4] Femi Olivia, Mendampingi Anak Belajar, Elex Media Komputindo, Jakarta
[5] Jenny Ghicara, Aku Bisa Menjadi yang Kumau, Media Elex Komputindo, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar