Rabu, 27 Juni 2012

Ada apa dengan Der Oranje? (Menelisik kekalahan telak Belanda di Euro 2012)

Piala Eropa 2012 kembali menghadirkan sensasi baru. Penuh kejutan, kemenangan atau kekalahan tak terduga, bintang baru, gol-gol indah, kejadian-kejadian unik hingga kebiasaan para pemain di luar lapangan serta dukungan suporter yang tak pernah lelah mendukung tim kesayangan mereka. Dimulai dari terjungkalnya sang finalis piala dunia 2010, der oranje, kemudian kekalahan menyakitkan Rusia atas Yunani dilanjutkan dengan tendangan 'panenka' ala Andre Pirlo ke gawang Joe Hart, hingga menyingkirkan inggris dari Euro 2012.
Dari seluruh kejutan-kejutan itu, ada satu keanehan yang layak diperbicangkan. Yakni kekalahan telak Belanda atas lawan-lawannya di grup 'neraka', grup B. Diawali dengan meledaknya tim Dinamit, seakan benar-benar menjadi pertanda bakal terseok-seoknya der oranje di Euro kali ini. 
Menelisik lebih dalam, di bawah komando Van Marwijk sebenarnya Belanda sempat menjadi kekuatan yang  menyeramkan pada Euro kali ini. Melihat prestasi anak-anak tim oranye selama piala eropa 2008, piala dunia 2010, hingga babak kualifikasi piala eropa 2012. Tak terkalahkan di sembilan laga kualifikasi, serta kemenangan telak atas Irlandia Utara 6-0 beberapa hari sebelum kick off di Polandia, menjadi teror bagi lawan-lawan Belanda di grup B.
Namun, itu semua hanya statistik hitam di atas putih. Sepak bola tetap sajalah rumusan yang tak akan bisa dipecahkan dengan hasil pasti. Apa yang diprakirakan para analisis, justru sebaliknya. Belanda diledakkan oleh Denmark, dipencudangi Jerman. Sempat ada harapan di laga pamungkas melawan Portugal, dengan syarat harus menang minimal dua gol, serta Jerman harus menang atas Denmark. Jerman sudah membantu der oranje untuk lolos, namun apa daya, Belanda malah harus mengakui keunggulan Portugal 1-2 setelah mencetak gol terlebih dahulu melalui Van der Vaart. Sehingga harus tersingkir dengan memalukan di fase grup. Satu hal yang pernah dialami Belanda, setidaknya 24 tahun terakhir di Piala Eropa.
Sekarang pertanyaannya, ada apa dengan Belanda? Tim dengan segudang pemain berkualitas nomor wahid di dunia ini. Di bawah mistar gawang ada Martin Stekelenberg, sang penjaga gawang AS Roma. Komando pertahanan dipimpin oleh Jon Cloris Mathijsen, dibantu oleh bek sekaliber Heitinga, Willems serta bek muda berbakat incar Real Madrid, Van der Will.
Barisan tengah, siapa lagi kalau bukan sang jenderal lapangan Inter Milan, Wesley Sneijder, disokong pemain jangkar Van Bommel, Nigel de Jong serta Rafael van Der Vaart. Barisan depan, ada 2 top skor di 2 liga berbeda, yakni Robin van Persie di Liga Primer, serta Klass Jan Huntelar di Bundesliga. Ditambah penyerang kecepatan tinggi macam Arjen Robben, Ibrahim Afellay, serta pemain-pemain lain yang tak kalah hebatnya.
Apanya yang salah? mungkin inilah pertanyaan yang terbesit di benak kita melihat Belanda harus angkat koper lebih awal dengan 3 kali kekalahan. Menyorot dari permainan anak-anak der oranje, nampaknya, cara main mereka mudah diatasi. Umpan-umpan panjang khas Sneijder mudah dibaca, kecepatan Robben dan Afellay mudah ditebak arah larinya serta Van Persie dan Huntellar yang nampak kebingungan tak tahu apa yang harus dilakukan. Para penyerang, seakan 'lupa' bagaimana cara membobol gawang lawan. Grogi depan gawang, kehabisan akal, kelelahan dan tekanan luar biasa nampak bercampur aduk di benak para pemain. Umpan-umpan cerdas ala Sneijder pun nampak tak banyak membantu.
Inilah yang disebut dengan sepakbola. Permainan yang melibatkan 22 orang di atas lapangan, ditonton  jutaan pasang mata, tak hanya sebatas usaha membobol gawang lawan selama 90 menit, namun hingga  pertaruhan harga diri dan martabat bangsa. Tidak ada hal pasti dalam sepakbola, semua terlihat relatif. Banyak keajaiban terjadi, gol-gol tak terduga, hingga semangat para pemain di liga-liga kasta kedua di eropa, justru tampil lebih baik dari pemain-pemain bintang di liga-liga elite eropa. Semangat, harga diri, harapan, keyakinan, keringat serta pertaruhan martabat bangsa seakan bersatu padu guna mendapat gelar prestisius setelah Piala Dunia, yakni Piala Eropa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar